Powered By Blogger

Kamis, 14 Maret 2013

Kelompok Balada #1


Kelompok Balada

Embun pagi yang cerah dengan semilir angin mewarnai pagi ini. Di ufuk timur matahari seperti enggan tuk berbicara. Entah dia malu pada embun pagi atau marah pada embun pagi. Sungai mengalir rindu tak  tertahan apa yang ada dalam jiwanya. Airnya begitu suci bergeming diatas tanah. Melihat awan sepertinya bersahabat dengan sungai itu. Aku begitu malas keluar sepertinya.
                “ Mina.. bangun mau sekolah gak? Ini hampir jam 7 tau, cepat turun!!” Ibuku memanggil dengan keras.
                “Bentar bu... aku malas sekolah sepertinya awan itu mendung,  aku libur aja yah?” pintaku. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang keras.  Pasti itu Ayah,  huh bahaya!!
                “ Mina kalau kamu tidak sekolah, papa akan hukum kamu!!. Ayo cepat bangun dan lekas berangkat.” suara Ayah begitu memeking di telingaku.
                “ Iya..iya beres.. nanti sebentar lagi keluar.” jawabku. Hah dasar papa satu ini cerewet banget!!.
                Akupun beranjak dari kamar dan pergi ke sekolah dengan ayah. Huffhhhh hari ini mendung banget sihh? Bikin orang gak semangat belajar aja. Dari mobil saat dijalan aku melihat Rafael manaiki motornya yang butut. Andai aja aku bisa berkenalan dengan dia. Berharap??. Sesampainya di sekolah. hujan pun mulai turun aku berlari sekencang-kencangnya ke kelas. Tiba- tiba brukkk aku terjatuh  hingga membuat buku- bukuku basah. “Oh.. no.. my book.. ahh... “
                “ Upss sorry.. sorry.” spontan orang itu menjawab.
                “  yaps.. tidak apa-apa.” Dia berlari terburu-buru  tanpa mengambil bukuku yang basah. Hah dasar,orang asing itu siapa dia?. Pertemuan yang misterius.
Di kelas yang begitu sempit karena jumlah muridnya banyak. Aku melamun dan melamun tapi entah yang kulamunkan apa.
                “ Woii.. Mina how are you?”
                “ Right. You?”
“ Right.. oh yess. Loe ikut gak minggu depan sekola kita kemping plus pentas seni gitu?”
“ What? Gue kok gak tau?”
“ Makanya dengerin dulu jangan cuting gitu dong? jadi gini bhratda, rencananya sih semua siswa kelas XII doang and nanti tiap kelas dibagi kelompok seni secara terpisah, so kelas kita and kelas XII lainya digabung untuk pentas seni. Jadi kemungkinan kita juga gak sekelompok, you are understand ? ”
                “ What? Berarti kemungkinan gue juga sekelompok dengan kelas lain gitu?” wajahku mulai panik.
                “ This right bhratda.”  jelas Vina seperti kesenangan.
                “ Terus pembagian kelompok kita kapan?”
                “ Ada kemungkinan sekarang pas pulang sekolah”
                “  Tau gak gue bisa-bisa muntah gerobak didepan lu Vin.. uoooooooo..”
                “  Dasar loe.. monyet kampus.”
                “  Daripada loe kambing congek.” kamipun tertawa riang.
                Aku sangat seneng banget punya sahabat karib seperti Vina. Dari dulu sampai sekarang sahabatku tetep aja Vina.

Hari itu tepatnya pengumuman kelompok pentas seni. Aku mendengarkan dengan seksama. Dilapang sangat riuh dengan murid-murid. Aku dengar dan mendengar Raymon, Rafael, Juwita, Saskia, Yuna, Mina, Juna, Kana, Hara, Iwa, Jondai, Wawan, Vina, Gindar, Fanji, Laya, Koko, Miga, Jae, Oki, Putra, Cogi, Hoho dan Lora kalian semua masuk dalam kelompok balada. Hah aku senang banget pertama aku satu kelompok dengan Vina sahabatku. Kedua aliran musiknya adalah balada. Aliran musik  yang aku suka.
                “ Vina.. kita satu kelompok yee.... gue satu kelompok dengan kambing congek..haha”
                “ Gue juga satu kelompok dengan monyet kampus. yee”
                Hari itu aku bahagia. Pas bubar dari lapang aku mendengar suara. “ Kelompok balada harap kumpul di sumber suara, sekali lagi kelompok balada haraf kumpul di sumber suara” kata orang itu. Aku pun kumpul disana. Dan ternyata orang yang ngomong adalah orang yang kemarin menambrak aku dan pergi begitu saja. Huh dasar ternyata aku sekelompok dengan dia.
                Dia berhitung-hitung orang yang sekelompoknya. “ Ok.. sip jumlah kita 24 oran, lumayan baik mungkin kita berkenalan dulu. Maaf menyita waktu pulang kalian. Kenalkan nama saya Jondai, oh ya,  mungkin besok gimana kalau kita kumpul lagi setuju?” dia bicara dengan gaya yang formal dan  berpendidikan.
                “ Setuju”  semua bersorak termasuk aku.
                Dari meja besar aku melamun selalu. Dan entah apa yang aku lamunkan. Hari selasa kami latihan persiapan pensi. Aku berharap Vina cepat kumpul supaya aku bisa mengobrol dengannya. Eh tak lama kemudian dia mengirim pesan bahwa dia tidak akan hadir. Menyebalkan!
                “ Hai.. sendiri nih?”
                “ Emmm..” jawabku singkat. Dan antah siapa yang menyapa itu.
                “ Oh ya.. kenalin aku miga, kamu mina kan?”
                “ Iya.” loh kok dia tau namaku? Pikirku dalam hati.
                “Satu minggu lagi kita kemping dan latihan hanya diberi waktu satu minggu. Nyebelin banget sihh” kesalnya.
                “ Sepertinya kamu tidak terlalu suka pentas seni ini ya?”  tanyaku sambil ku ceplas-ceplos. Uppsss terlanjur nanya.
                “ Sepertinya sih, tapi aku berusaha suka, lihat!! Orang yang namanya Jondai itu sepertinya gesit banget. Termasuk Rafael dan juwita. Sepertinya mereka suka banget musik. Kalau kamu suka musik atau tidak?” aku melongo dan terdiam saat lontaran kata darinya.
                “ Jawabannya entalah apa ya? Antara suka dan tidak, karena aku bukan turunan pemusik kali ya?. Lagipula aku hanya suka instrumennya saja bukan dengan liriknya. Kalau boleh tahu kamu kelas XII berapa?
                “ XII 2 IPA,  sama dengan jondai and rafael itu.”
                “ Oh.. kamu tidak bergabung sama jondai and rafael?”
                “ Aku tidak terlalu menyukai yang namanya jondai jadi aku tidak mau bergabung.”
                “ Oh, begitu ya? Sayang sekali.”
                “ Maksudnya?”
                “  Ya berarti hubungan teman kalian belum akrab?”
                “ Sepertinya, tapi aku menyukai lelaki yang namanya Rafael dia selalu tersenyum walaupun orang lain marah padanya.”
                “ Baguslah, Ingat jadikanlah temanmu menjadi Sahabat karena Sahabat adalah Kekuatan Hatimu.”
                “ Baiklah, aku selalu senang berteman, ternyata kamu menyenangkan yah? Aku kira kamu orangnya jutek.”
                “Jadi kamu mengnganggap aku jutek? Haha, itu salah besar.”
                “ Iya aku minta maaf, wajahmu merah jika kamu marah kaya kepiting rebus, haha”
                “ Apa? Kalau begitu aku akan panggil kamu kacang mende?”
                “ Mengapa?”
                “ Karena kamu pendek dan gendut. Vish!!”
                Hari selasa itu aku mempunyai teman namanya Miga. Ternyata dia tidak ada bedanya dengan Vina. Setelah kami besuka ria dengan Miga aku meminta izin untuk ke WC, saat itu aku mendengar percakapan rafael dan jondai.
                “ Loe itu yang egois, gue pikir loe gak pantes tetep aja ngotot.” sebrotan kata keluar dari mulut Jondai.
“  Apa? Gue hanya ngasih saran dan itu mungkin terbaik tapi loe yang egois.” tamparan dari Jondai hampir tak mengenai Rafael.
 “ Sudah cukup pembantu gue udah muak dengan loe. Ingat gue gak akan sungkan-sungkan pecat loe. Ingat itu!!” Jondai keluar dan aku cepat-cepat bersembunyi. Tak lama setelah itu Rafael pun keluar dan aku mencoba mendekatinya.
 “ Boleh aku temani?”
Dia tak menjawab sepatah katapun. Aku coba bertanya kembali. “ Tidak, bisa tinggalkan aku sendiri, aku mohon.”
“ Baik” kataku. Dia seperti melihat beban yang telah larut dan kini menggumpal dalam hati.

Daun kentut
Hari minggu kami semua berangkat ke puncak Bogor untuk merayakan pentas seni disana.
“ Mina..”
“ Hai .. tumben??”
“ Aku kesini mau minta maaf soal kemarin, aku..”
“ Tak usah minta maaf. Bukan salah kamu kok, gue maklum.”
“ Ya sudah terima kasih, Mina boleh aku mengobrol dengan kamu nanti malam?”
 “ Ee...eee iya boleh asal ada syaaratnya?gimana?” aku berusaha untuk tidak gugup, yes akhirnya gue bisa ngobrol sama rafael, hoooreee, tapi gue harus bersikap sewajarnya.
“Emang apa syaratnya?”
“ Kamu harus bantuin aku cari kayu bakar, tadi Pak Tono suruh gue nyari kayu bakar..gimana?”
“ Ooo..siap..”
Kamipun mencari kayu bakar bersama-sama. Aku dengan Vina dan Rafael dengan miga.
 “ Bhratda aku kesini dulu ya.. kayanya disana banyak kayu bakarnya.”
“ Iya ati-ati bhratda!!”teriak Vina
Aku pun mencari sendiri kayu bakar. Hutan begitu sunyi dengan nyanyian angin indah. Aku terenyuh mendengarkan nyanyian itu dan ku melentangkan tanganku hingga kayu bakarku jatuh. Aku begitu menikmati. Tapi seperti ada yang merangkulku di belakang. Dia siapa? Kurang ajar pikirku?. Aku melirik ke belakang tak ada siapa-siapa. Tapi yang merangkulku masih ada. Siapa dia? Aku melirik kebawah. Aku sampai terkejut. Sangat takut.
“ Ulaaaaaaaarrrr.. tolong aku..... toloooooong.” Aku begitu panik. Ular itu melilitku.
“ Mina tenang, aku ada disini kamu harus tenang.” Rafael  berusaha menenangkanku tapi aku masih panik karena ular itu masih ada.
Dari kejauhan aku melihat banyak orang menyaksikan aku yang panik. Tapi aku menutup mataku karena aku takut. Aku merasa ada yang mengambil ular yang melilit  itu tanpa takut dari tubuhku. Siapa?
“ Horee... Raymon bagus kamu..hebat.. gak takut loe sama ular segede itu?”  teriakan banyak orang menjawab siapa yang mengambil ular yang melilitku itu . Dia adalah Raymon.
Sedikit lega karena lilitan ular sudah tidak ditubuhku. Aku membuka mataku dan benar ternyata raymon mengambil ularnya.
“ Thanks ray.. kamu udah selamatin hidup gue..”
“ Ular itu menemukan jodohnya”
Apa-apaan dia aku berterima kasih tapi dia menjawab begitu.
“ Ya memang aku orang aneh. Sama-sama..” jawabnya. Dia hebat bisa membaca pikiranku ucapku dalam hati.
“ Kamu tidak apa-apa kan na?”
“ Tidak.”
“ Syukurlah.”
“ Eh rafael orang itu hebat betul ya, tapi ada yang aneh dengan omongannya tadi.”
“ Ya memang dia aneh. Kamu tau gak saat makan dikantin dia makan sambel lima sendok itukan aneh?”
“ Aduh loe itu oon atau bego?. Ya wajar kalau lima sendok bukan aneh gue juga delapan sendok. Jadi itu gak aneh, dasar loe barong hitam?”
“ Oh.. berarti kamu dong  yang paling aneh makan sambel sampe delapan sendok.”
“ Apa loe bilang.. dasar barong hitam sini loe gue cabik- cabik...ihhh” Walaupun baru kenal hampir  satu minggu tapi aku sangat senang selalu bersama rafael. Dia seperti orang yang dulu hilang. Tepatnya orang yang kusayangi hilang.

Api unggun yang hangat. Cuaca puncak yang membius dekap kedinginan. Serta nyanyian dari kelompok lain yang mengharu qalbu. Tema lagu yang ditampilkan malam ini adalah sad glora melodi. Atau lebih tepatnya kesedihan dan keharuan.
Aku meresapi lagu dengan memejamkan mataku dan hanya suara lagu yang kudengar dengan merdu. Serasa ada yang memegang tanganku. Aku cepat-cepat melihat dengan jantungku yang berdekup kencang karena aku takut itu ular lagi. Ternyata salah. Itu bukan ular.
“  Rafael jadi kamu, ngagetin aja sih dasar loe barong hitam.”
“ Kamu ngelamun apa sih?” sambil tertawa riang yang saat itu aku melihat giginya yang putih dengan muka hitamnya yang manis.
“ Ya.. ngelamunin lagu sad glora melodi ini lah, kamu suka lagukan, anak seni??masa  gak dengerin sih?” sindirku
“ Ya mau, melamunnya sama kamu yah? ” pintanya
Hatiku berdekup kencang kembali mendengarnya.
“ Hahaha.. dasar loe barong hitam” menghilangkan rasa gugupku. “ Katanya loe mau ngobrol sama gue memang mau ngobrol apa sih?”
“ Perkemahan ini sampai seminggu berarti minggu pagi pulang ya?”
“ Iya.. emangnya ada apa?”
“ Enggak.. eh mana Vina and Miga?”
“ Kayaknya mereka sama jondai, entah lagi apa yah,, ehh boleh tanya?” mataku ragu saat melihat wajah Rafael.
“ Akhir-akhir ini kenapa hubungan antara kamu dan jondai gak seakrab dulu?”
“ Memangnya kamu tau hubungan kami dulu?”
“ Tidak, karena jondai kan anak baru sedangkan kamu sudah lebih awal pindah ke sekolah ini. Ya aku hanya pengen tau aja kalau kamu enggak mau cerita gak apa-apa.”
“ Baik aku akan cerita tapi jangan disini berisik nihh! Banyak orang lagi.” Rafaelmelihat-lihat tempat yang nyaman. “ oh disana masbrotha?yuu!”belum juga aku menjawab ayo dia memegang tanganku dan menyeretku ke tempat yang ditunjuk tadi. Aku berdekup kencang.
“ Nah sini duduk.”
“ Ya..ya..ya.. ayo ceritain dong?”
“ Ya aku mau cerita tapi kamu cium aku dulu. ” masih berdekup kencang
“ Kamu itu ya.. mau aku cium, baik mendekat!! mau cium yang mana?” inilah saatnya gue kerjain loe dasar otak mesum, pikirku.
“ Seluruhnya?hihi.”
“ Oke siap, kamu tutup mata.? diem..” aku siap mengerjai rafael dan untungnya ada daun kentut ini, baiklah mulai!! aku melambaikan tanganku kepada si Hoho dan memintanya untuk kesini lalu memberi kata isyarat tolong olesi dia dengan daun kentut ini!! . Aku menunjuk kepada Rafael.
“Mina kamu enggak ninggalin aku kan?”
“Enggak Rafael sayang.”
Ternyata Hoho mulai aksinya dia mengolesi pipinya Rafael pake daun kentut itu, Rafael membuka matanya. Dia sangat kaget karena yang menciumnya adalah Hoho si bencong centil lalu Iapun menjerit. “ Mina, awass kamu ya!!” sepertinya Rafael kapok.
“ Makanya jangan bergaya di depanku emang enak dikerjai.. loe bukan di cium brow tapi di olesi daun kentut. Salah sangka aja..hahaha..”
“ Aku cuma bercanda tau.” Katanya dengan wajah kesal.
Kami pun tertawa riang. Tapi akhirnya Rafael  tidak bercerita malah kita bercanda riang saja. Pukul menunjuk ke arah jam dua subuh tapi mataku tak mengantuk sedikitpun. Diluar sangat ramai hanya tendaku saja yang orangnya sudah tidur semua termasuk vina yang terlelap dalam mimpinya. Aku ingin keluar tapi udara sangat dingin. Lalu aku mengintip ternyata diluar. Tapi aku rasa cuacanya amat dingin hingga terpaksa aku memejamkan mataku berusaha untuk tidur.

Cuaca mendekap anganku. Merujuk keufuk barat tak sendiri hanya semilir angin. Pohon rintik yang anggun meneteskan air dari embun pagi di Bogor. Masih pagi gini udah pada sibuk keluar masuk. Kepalaku pusing banget sepertinya kurang tidur semalam. Hah males bangun.
“ Mina.. bangun loe itu gawe’e ngorok teruss.”  terdengar suara yang amat cerewet emang satu dua dah sama mamahku.
“Ih, masih pagi tau.” aku menyelimutkan diri dalam selimut saking dinginnya.
“ Aduhh ini tuh udah jam sembilan.. woiii bangun.. kerek bener loe?”
“ What? jam sembilan.” aku terperanjat kaget, bisa-bisanya aku kesiangan begini sampai jam sembilan. Aku lirik kanan kiri ternyata orang lain sudah tidak ada ditenda. Aku coba liat keluar. Dan pas aku buka pintu tenda. Hilir mudik orang-orang berlari. Tambah lagi terdengar suara untuk kumpul, sepertinya pak Tono.
“ Ayo belut kerek bangun.. gue tunggu loe disana yah!!” Vina menunjuk ketempat yang dituju disana ada miga dan Rafael.
“ Tunggu gue kesana. Gak mandi ah. Dingin..”
“ Idihh jorok amat sihh loe dasar belut kerek. Iya setidaknya loe cuci muka dulu dong tuh muka loe berantakan banget dan emm bau dahdir loe tuh!!.” jelasnya sambil mngenduskan hidungnya.
“ Oke loe duluan aja deh.. gue cuci muka dulu.”
“ Sekalian cuci mulut loe yang bau,” dia terkekeh kekeh.
“ Iya cerewet gue ngerti.”
Selesainya aku pun beranjak dan bergabung dengan teman-temanku.
“ Hay bhratda...”
Kami pun menyaksikan kelompok-kelompok pentas seni lainnya. Kami bersuka riang bercanda tawa dan hal aneh lainnya kita selalu lakukan bersama kelompok bhratda.

 Hari kian hari kini aku lalui. Hingga tiba saatnya kelompok melodi balada tampil di ujung acara. Malam itu kami siap-siap untuk tampil. Aku melihat syal warnanya merah cerah. Tunggu dulu aku sempat melihat syal ini, tapi dimana yah. ohh aku ingat ini syal jondai.. kok ada ditendaku.. dia memangnya pernah ketenda ini? Pikirku.
“Ah, mending aku balikin aja deh. Ini syal kok aneh. Yang punya kan Jondai Urania tapi ada huruf M. Ah mungkin milik si Juwitanya kan kepanjangannya Mandala.. tapi coba  kasih Jondai dulu aja deh,  siapa tau bener miliknya.”
Hampir aja sampai di tenda, aku melihat drama pertengkaran lagi.  ini pasti Jondai dan Rafael lagi. setelah aku mendekat ternyata benar. Itu suara Rafael. Aku pun berusaha menyimak apa yang mereka bicarakan.
“Pokoknya setelah ini gue akan balas dendam ma loe. lihat aja!! sekali lagi loe deketin dia.. aku akan mengambil orang yang kamu cintai. Camkan itu baik-baik rafael!!”
Setelah itu Jondai kelua. Aku pun mengikutinya dan berusaha sewajar mungkin pada teman sekelompokku ini.
“ Woii ..bos ni syal loe kan?”
“ Oh, loe dapet dari mana?”
“ Syal ini gue temui di tenda gue.. entah lah ujug-ujug gitu” diapun mengambil syal itu dari tanganku. Dia mengambil syal itu dan pergi begitu saja.“ Eumss” tak ada ucapan terima kasih itu bagus kataku dalam hati. aku pun berbalik dan menuju tenda tadi saat aku membuka gordeng tenda Rafaelpun muncul dan aku hampir saja menubruknya..” ehh barong item..” kataku terkekeh-kekeh.
“Hay!”
“Malam ini kita tampil brow..”  aku begitu salting melihatnya.
Malam itu kami kelompok balada pun tampil. Dari awal acara semua bernyanyi riang. Rafael bermain gitar amat harmonis dan Jondai bermain bas sangat bagus. Sedang yang lainnya bernyanyi mengalun seperti angin. Tapi pas reff tiba kami menyanyikan. Harmoni itu pecah bagai pasir terbawa angin. Suara gitar tak karuan dan melodi dentum balada hancur. Saat pentas seni  selsai.
“ Sudah kuduga pasti loe lagi, loe menghancurkan kelompok gue. Puas!!”
Rafael tak berucap saat Jondai terus memaki-maki dia. Dia tak berkutip. Juwita menangis entah menangis kecewa atau menangis takut?. Aku sangat sedih melihat Rafael dimarahi tapi aku tak berdaya. Sikap Jondai amat keras dan sangat menyebalkan. Pantas saja Miga tak menyukai dia.

Pagi yang sangat cerah aku bangun dengan  kepala berat. Hari ini tiba saatnya pulang kerumah. Kami mulai berbenah tenda masing-masing. Rasanya aku sudah ingin pulang tak betah diperkemahan.
“ Bhratda, besok malem kita kumpul di rumah gue.? Kebetulan ade gue mau rayain ultah tuh...hehe. gimana mau ikut ga?”
“  okehh bhratda..”.
Akhirnya tepat jam sebelas siang kamipun cabut dari kawasan puncak bogor ke rumah masing-masing.

Alunanmu
                Malam ini aku harus menghadiri ultahnya ade si comel vina. Eumss gue ajak siapa yahh. tak lama aku melamun handphone ku berdering. Siapaya?
                “ Hallo, iya siapa ?”
                “ Bhratda... ayo dong sini udah mulai nih?”
                “ Siap boss,  mina bhratda meluncur ke sana? Siapin ayam goreng, baso, mie ayam aja ya..hehe”
                “ Iya buru, udah gue siapin,gue tunggu loe, awas loe harus datang!!”
                Tak ada suara lagi. Pasti dimatikan. “Okey, gue berangkat.” rumah Vina dekat ko cuma jalan sepuluh meter saja.
                Waw rame banget. Dimana si comel sihh. Gue malu nih. Yang dateng anak SMP semua. Tapi pestanya kayak anak kuliahan. Hebat banget!. Makanan banyak banget. Dekorasi  lucu abis. Warna dasarnya merah muda. Dibalut dengan warna biru tua dengan hijau toska. Waw amazing.. ngomong-ngomong mana si comel dari tadi dicari sana-sinii gak ada. Dimana ya??
                “ Woii...ya ampun mina loe!”  vina mengagetiku dari belakang dan menatapku lekat-lekat sambil tertawa lebar.
                “ Kenapa loe ketawa, ada yang aneh gitu?”
                “ Loe itu nora banget sih, apa loe gak tau pakaian untuk berpesta?” Vina masih saja tertawa lebar.
                “ Kenapa dengan pakaian gue ada yang bolong? Gue kira tidak ah..” aku panik karena sepertinya Vina menilaiku dengan lekatnya. Dan aku melihat kebawah kesamping kebelakang dengan panik.
                “ Enggak, bukan bolong.. tapi loe gak tau situasinya bhratda.. seharusnya kalau nanti kamu mau kepesta lagi. Pakai pakaian seperti gaun, batik kemeja atau pakaian yang layak, you are understand?”
                “ Ini juga layak pake tau..”  aku kesal melihat Vina mengejek pakaian kesukaanku.
                “ Aduh.. Mina ini itu baju tidur bukan baju pesta, lihat deh sekelilingmu loe kalah oleh anak-anak  SMP !!”
                Aku tak mempedulikan omongan Vina bagiku pakai pakaianpun beruntung daripada gak pakai pakaian sekalipun. “ Iya.. ya.. ya.. nanti gue usahai, gue pakai ginian berhubung rumah kita deket aja jadi ya pakai switer n celana tidur aja. Hehe.. udah deh jangan komen lagi..ngomong-ngomong mana Bakso yang loe janjiin tadi?”
                “ Siip udah gue siapin tapi loe harus ucapin selamat dulu gih sama ade gue..” sambil menunjuk keberadaan adenya. Silvina ayodia.
                “ Waw ade loe cantik ya, loe kalah sama ade loe Vin, lihat ade lu lebih anggun daripada loe!! Berbanding terbalik dengan loe yang tomboy.”
                “ Ah loe,  tapi kalau gue dibandingin loe.. loe lebih bernotaben tomboy plus norak.”
                “ Dasar loe idung comel malah bandingin gue sih!!” jawab ku terkekeh-kekeh
                “ Abis loe sih duluan, udah cepet sana ucapin selamat dulu sama ade gue.”
                “ Iya..ya..ya.. gue keasana bhratda..”
                Selesai mengucapkan selamat kepada adenya Vina aku mengobrol dengan asyik  bersama Vina sambil memakan bakso. Di sisi lain terdengar suara nyanyian dari speaker utama. Aku mendengar alunan musik yang merdu. Yang menambah suasana ramai di pesta ini. Alunan.. alunann.. siapa ya yang membawakannya.. jarang sekali aku mendengar suara yang merdu ini. Aku tidak bisa melihat ke atas panggung. Aku melompat tinggi, karena tubuhku yang pendek dan sedikit gemuk aku tidak bisa melihatnya. Siapa yang yang menyanyi itu?, didepan panggung sangat berdesak-desakan.
                “ Vin siapa sih yang nyanyi merdu banget ?”
                “ Oh itu, gak tau tuh namanya gue lupa lagi. Siapa ya? Eumsss putri .. e..e...e... aduh lupa lagi bhratda.”
                “ Yah sayang aku pengen kenalan tuh.. loe tau darimana itu nama putri?”
                “ Ya itu.. dia itu guru les musiknya sisilvina katanya sih masih seumuran kita. Dia pandai bernyanyi dan bermain alat musik jadi dia ngadain les buat anak SMPan yang suka musik. Gituu! ya ade gue salah satu asuhannya.”
                “ Ooooohhhh.. eh lain waktu kenalin gue ma dia yah, loe juga ingetin namanya baru kenalin sama gue. Btw gue kebelet mau puph nih. Gue cabut dulu yahh, duhh gak tahan nihh mau keluar. salam sama ortu and ade loe. Dahhh!!” akupun pergi sambil berlari terbirit-birit tak tahan sikuning mau keluar. Dan Putri bla-bla-bla alunanmu indah sekali.
                “ Ah loe.. gak asik.. makanya kalau makan sambel jangan kebanyakan nanti berabe jadinya. loe makan sambel sampe enam sendok,  getol banget sihh. Ya deh hati-hati nanti gue sampein!!”

Aku sayang kamu
“Author pop”
                “ Idihhh.. jorok banget sih fanthom kamu tuh harus belajar beranak, kamu tau beranak?”
                “ Apa sih kak.. kakak juga jorok lagi pula apa coba beranak?”
                “ Beranak itu bersih dan enak, nah cepat cuci tanganmu.. sana pergi..hus..suss..”
                “ Dasar kakak jelek.. emangnya aku kucing apa? Huh..”
                Putri hanya tersenyum tipis saat adiknya yang berumur  tujuh tahunan sedang memegang pupuk dari feses domba.
                Pagi itu putri berangkat sekolah diantar dengan ayahnya menaiki motor yang lumayan butut. Saat itu putri sedang berada dikelas XI. Sekolah yang amat indah dengan kebersihan,sehat dan banyak anggrek tumbuh. Sayang sekali waktu masih pagi sudah turun gerimis kecil. Putri amat cantik walaupun dia orang tak punya tapi wajahnya seperti anggun dan kelas atas akibatnya banyak sekali yang ingin berteman dengan dia. Malahan dia seperti bidadari sekolah.
                “Ekhemmmm.. putri..hehe”seorang lelaki mendekatinya dan putri sangat terganggu atas kehadirannya.
                “ Iya? Apa?” jawaban Putri sangat dingin.
                “ Kenapa sih sms aku gak pernah dibales, padahal aku selalu kirimin pulsa sama kamu? Kenapa put?”
                Putri hanya terdiam tak memandangi si lelaki hitam tersebut.
                “ Baiklah maaf, aku cuma ingin kenal deket sama kamu aja putriku yang cantik.”
                “ Kenapa sih kamu gangguin aku terus.. coba dong kosentrasi sama belajarmu, belajar juga gak mau jangan harap dapetin aku. Pergi!!” wajahnya merah padam entah marah atau merasa tak enak memarahi dalam artian malu.
                “  Ya maaf mengganggu.”  Rafaelpun tak berkata dan pergi hilang dihadapan putri.
                Putri seperti bersalah padanya. Namun biarlah toh dia suka gangguin kegiatanku pikirnya.
                “ Hey tak usah seemosi itulah melodi. Kasihan dia kayaknya dia cinta mati sama kamu tuh ,kalau aku melihat dari matanya dia tulus tak kecewa. Dia selalu tersenyum pada siapapun. Lihat dia bercanda setelah masalah ini. Rafael itu seperti manganggap masalah  yang menurut kita besar bagi dia masalah itu dihadapinya dengan senyum. Aku kagum sebagai lelaki yang tak pernah bisa jadi dia.”
                “ Ya itu sisi lain. Tapi tetap aku tak bisa menerima keadaanya yang sedikit bodoh, menurutku.”
                “ Kamu itu memang pengennya punya pacar yang pintar yah, eh?”
                “ Tidak seperti itu juga yang jelas  sedikitnya dia punya otak.” jawabnya dengan melontarkan wajahnya ke arah lelaki disebelahnya. Jondai.
                “Yayaya.. terserah putri melodi saja”

Setelah penolakan cinta oleh melodi dia selalu berusaha tampil harmonis dengan gitar. Dia selalu bermain gitar dan bernyanyi sesuai bakat yang dia miliki. Berharap semua wanita mendekatinya. Hanya harapan. Namun sebagian teman dikelasnya mengatakan rafael sangat aneh karena seharusnya Rafael itu jago akan matematika itupun sebab ayahnya seorang dosen matematika. Tapi walaupun ayahnya seorang dosen matematika dia tidak mau jadi dosen. Dia hanya ingin jadi musisi. Oleh karena itu gitar adalah keahliannya. Trik itulah yang membuat dia sangat tampil beda dari sebelumnya. Saat perayaan pentas seni semester tiga dia sangat antusias mengikutinya dan acara seperti itulah yang ditunggu-tunggu Rafael.

                Terdengar dari suara speaker utama “ Baiklah kita tampilkan musikalisasi puisi dari kelas XI 2 IPA  yang akan membawakan lagu hujan sesaat  dengan alunan balada. Inilah dia Rafael. Tepuk tangan semuanya.” Rafael pun muncul dengan gitar dan pakaian berkemeja panjang gaya santai dengan jeans hitamnya yang terlihat oke.
                Dari tempat duduk Melodi di depan, dia melihat Rafael beda dari yang dulu. Wajah hitam dulu kini bukan hitam tapi ada cahaya yang amat menyenangkan dari matanya maupun wajahnya yang berkata indah.
                “ Dia bedakan Melodi?”
                “ Sepertinya,” wajah melodi bersinar seketika melihat Rafael memainkan gitar dengan harmoninya. Lagu baladanya yang sejuk dan mengalun sebagai hujan sesaat. Rafael mungkin kini aku mencintaimu.

                Semester tiga telah dilewati kini setelah berhari-hari tak bertemu Rafael. Melodi tampak gelisah dia takut Rafael semakin menjauh akibat ucapannya yang lalu. Kemana dia? hitam kau pergi? Kau kemana berhari-hari sudah kau menghilang ditelan bumi? Kalau kamu merayuku lagi aku siap jadi pacarmu Rafael? Tapi kamu kemana?  Hati Melodi bertanya-tanya. Sayang sampai bel ditunggupun dia tak tampak. Jondaipun dia tak ada?
                Kini kelas mulai sepi, guru matematika telah datang. Dan dia seperti memegang kertas ulangan.  Jangan-jangan ulangan lagi, aduh aku lagi gak konsen nih. Jangan sekarang, pliss. Lirihnya dalam hati.
                Bu mela pun mulai pembicaraan dan dia seperti mempunyai sesuatu untu disampaikan. Senyumnya yang agak pait tanda tak ikhlas itu buktinya. “ Oh ya.. kalian sudah tahu berita belum?”                “Berita apa bu?” celetuk seorang murid.
                “ E..” baru saja  bu mela mau jawab terdengar ucapan yang mengagetkan. Tanpa ketu pintu seperti sudah berlari terengah-engah.
                “ Pagi bu maaf terlambat.” sapa Jondai dengan hati takut dimarahi.
                Melodi sangat senang melihat sahabatnya ada. Dan pasti Rafael juga masuk ucapnya dalam hati.
                “ Ya masuk. Kamu ini terlambat untung sekarang ada ulangan jadi ibu bebasin kamu tapi lain kali kamu akan ibu hukum!” jawaban seorang guru yang tegas. Dengan wajah yang suram Jondaipun masuk.
                “ Bu lanjut dong berita apa?”
                Ibu mela hanya diam sepertinya dia malas setelah ada hal yang tidak mengasyikan datang dengan tiba-tiba. Ia tampak langsung kecewa dan membagikan kertas ulangan matematika. Suasana kelas sangat hening.
                Saat istirahat Melodi tampak gelisah. Ia terus teringat sesosok lelaki yang hitam tapi bercahaya matanya. Melodi langsung menanyakannya pada Jondai.
                “ Hey, aku boleh tanya?”
                “ Tanya apa?”
                “ Kamu tahu keadaan Rafael apa dia sakit? Dia tak ada?” wajah Jondai menangkap apa yang ada benak Melodi.
                “ Kamu gelisah putri?”
                Wajah Melodi tampak merah merona.” Eee...enggak ya aku mau tanya aja kemana?”
                “Dia udah pindah sekolah putri,,” jawaban Jondai amat dingin.
                “ Oh, kemana?”
                Jondai mengobrak-abrik dompetnya dan mengambil selipan kertas dalam dompetnya “ Nah nih ini alamat sekolahnya.”  Melodipun mangambil secarik kertas dan dibacanya. Jakarta. Sekarang aku ada di bandung. Jauh sekali? Kau pergi Rafael ? aku rindu kamu? Pikirnya. “ Thanks.. oh ya kayaknya kamu sangat dekat dengan Rafael. Kalau boleh nanti libur semester empat  aku titip ini kepada Rafael.” Putri mengambil bungkusan dengan tema hijau toska. Nah ini buat Rafael. Bisakan. Tolong ya?”
                “Iya boleh apapun bagi sahabatku. That right.” Jondai mengambil bungkusan kado itu dari tangan Melodi.
                Saat aku membencimu kamu datang tapi disaat aku menyayangimu kamu pergi. Kau salah Rafael. Sekarang aku mencintai kamu.
Kopi panas
                “ Sampai kapan hujan ini mau berhenti ya?”
                Saat itu aku sedang berada disebuah gardu kecil tempatnya berada di perkomplekan. Entah apa namanya. Tiba-tiba sebuah motor berhenti. Siapa ya? ko aku kenal? Motor butut itu!!
                “ Weii bhratda!”
                “ Yee.. tenyata lu upil udang!”
                “ Dasar loe barong hitam”
                Kami tertawa sejenak saat saling mengejek. “ Eh kamu tau gak hujan-hujan gini enaknya apa?”
                “ Apa gitu? Awas ya jangan otak mesum!” aku sedikit jeli menghadapi otak mesumnya yang sedikit.
                “  Wah kamu sensi banget sih. Aku tuh gak ngebayangin yang tidak-tidak. kamu kali udah mesum duluan?”
                “ Yee..siapa lagi yang mesum.. geer..ya terus apa enaknya? Jangan tawa loe kalau loe ketawa gigimu aja yang keliatan..vishhh”
                “ Eumss. Dasar jelek.. ya udah langsung aja hujan-hujan gini tu enaknya ngopi apalagi kopinya anget.. setuju ga?”
                “ Wah itu sih aku setuju,  ya masalahnya dimana kita ngopi? and siapa yang nelaktir?”
                “ Kamu lihat sana.. tuh! Udah aku aja yang nelaktir, gimana mau?” menunjuk kesebelah kanan belakang yaitu warung kopi.
                “ Oke.. deal..kalau gitu.. lets go bhratda!!”  kamipun pergi menuju warung kopi disisi belakang rumah megah dengan berlari menembus hujan, saat aku berlari duluan dari Rafael tidak terasa tanganku dipegang terus tak lepas dari genggaman Rafael. Namun aku tidak marah, sungguh hatiku sangat senang. Entahlah jujur mengkin aku sedikit menyukai Rafael. Bagiku dia unik. Saat berlari kami tidak melihat orang didepan akibatnya kami menubruk seseorang.
                “ Upss..maaf kami gak sengaja,” jelasku.
                “  Ya” Orang itu pergi begitu saja. Yang aku lihat dia memandang tajam pada wajah Rafael. Dan aku juga melihat wajahnya hampir mirip dengan Rafael.
                “ Bhratda, kayaknya kamu saudara kembar dengan orang yang tadi nabrak kita deh?”
                “ Masa? Memang kami sama persis?”
                “ Sedikitnya,”
                “ Didunia ini banyak wajah yang mirip, hampir mirippun malahan banyak. Jadi aku pikir hal itu biasa.”
                Tapi tatapan wajah orang tadi menatap sangat tajam kepada Rafael. Ah biarlah!! Kataku dalam hati. Kamipun menuju warung tadi.
                “ Bu kopi angetnya dua gelas yah?”  Rafael memesannya duluan. “Eh kamu mau apa lagi mau mie atau mau apa gitu?”
                “Aku males makan mie kalo hujan ginian, enaknya sih kalo makanan pastinya gulali tapi sayangnya itu gak ada.”
                “ Gulali??” Rafael meraba-raba tasnya dan mengambil sesuatu dan aku lihat dia membawa  gulali loh??. “ Nah ini dia kamu suka gulali. Aku juga suka malahan waktu sebelum pindah ke jakarta aku suka beli gulali didaerahku ngomong-ngomong kenapa kamu suka gulali?” wajahnya membuat senyuman yang indah dia menatapku dan aku berusaha bersikap jutek melihatnya.
                “ Dasar peniru! aku juga suka beli gulali dari saat aku kecil malahan ibuku suka melarangku untuk makan gulali katanya tubuhku nanti akan gendut dan gigiku pasti terkikis dalam artian ompong. Tapi itu tak menjadi halangan. Aku suka gulali. Siapapun yang melarangku makan gulali. Aku pasti akan tetap makan gulali.”
                “ Pantesan Kamu sedikit gemuk.”
                “ Daripada loe kurus, eh?
                “ Ya ya ya, jangan ketawa kalau kamu ketawa kaya gulali gemuk.”
                “ Dasar loe barong hitam, eh ya katanya kamu tadi pernah tinggal dibandung?”
                “ Memang.. memang kenapa?”
                “ Gak aku baru tau. Kalau boleh cerita dong disana teman-temanmu gimana? Rame gak? Terus pengalaman yang paling indah dan bermakna apa?apa kamu punya cewe yang disukai?” aku hanya menatap dan tersenyum menunggu Rafael berkata. Namun aku menangkap wajah muram itu. Dia seperti tertekan dari senyum yang mengembang terhenti saat itu. Akupun langsung berkata “ Ya sudah loe gak mau cerita no what-what.” aku rada kecewa.
                Saat itu dia tak terucap dan melamun dengan pandangan kosong. Hatiku gemetar takut tersinggung dan aku takut menyakiti perasaannya. Karena suasana jadi bete seketika aku mengeluarkan handphoneku dan membuka deretan lagu tuk diputar sepertinya lagu yang cocok adalah lagu balada. Lalu aku putar lagunya.
                Bintang mengapa kau tak berkata sedikitpun sepiku tanpa cahayamu
                Oh bintang terangiku dalam dunia nun sepi ku sendiri merenungmu
                Aku memutarnya tanpa peduli sekeliling. Hujan masih deras. Kopiku belum saja ada. Mungkin ibu warung sedang masak air.
                “ Aku tau lagu ini. Aku juga suka. Oh ya. Maafkan aku, kamu pasti marah?”
                “ Ya sedikit kecewa bukan marah. Tapi ya biarlah. Nanti hilang sendirinya.” Aku membuang gagang gulali yang telah habis aku makan dengan sekejap.
                “ Dulu saat aku dibandung aku pernah sekelas dengan Jondai. Aku dan jondai selalu bersama. Bermain gitar sampai minggat sekolahpun kami pernah. Pokoknya persahabatan kita berjalan lancar. Namun itu tak lama setelah sesuatu menimpa keluargaku. Saat itu ayahku selingkuh dengan ibunya jondai, pasti jondai marah karena dia amat mencintai keluarganya, dan..” Rafael terhenti bicara ia menarik napas dalam-dalam sepeti membuka masalahnya. “ aku juga merasa marah mengapa papah bisa sedemikian selingkuh dengan ibunya Jondai. Jujur aku sudah tak punya ibu lagi dan saat aku tau itu aku senang papah dapet calon istri tapi saat aku dengar calon istrinya adalah ibunya jondai. Aku tertegun.”
                Saat itu aku amat meresapi ceritanya dan aku juga merasa marah atas tindakan ayahnya itu. Terlihat Rafael mengepalkan tangannya. Lalu aku melihat handphoneku dan mematikan lagu balada tadi. Lalu menoleh lagi ke Rafael.“ Terus gimana? Pasti loe kesal sama ayah loe kan? gue juga bisa merasakannya seandainya ceritanya begitu. Tapi sekarang ayahmu dan ibu Jondai?”
                Rafael meneruskan ceritanya. “ Mereka meninggalkanku, mereka kabur entah kemana? Sepertinya ayahku terlanjur cinta dan membawa ibu jondai pergi. Ayahku tega.” Aku tak bisa berkata apa-apa lagi aku hanya diam. “ Lalu setelah kejadian itu aku meminta tolong pada Jondai dan apa hasilnya? Saat itu aku kelas dua SMA dulu dibandung aku sudah tak punya apa-apa  akhirnya aku jual rumah di bandung dan aku tabung uangnya ke bank untuk hidup sehari-hari. Tapi sungguh itu tak cukup akhirnya semester empat  aku pindah ke Jakarta untuk kerja sambil sekolah disini. Aku melamar jadi tukang membersihkan kebun di sebuah rumah mewah. Dan diterima. Kamu tau pemilik rumah itu siapa?”
                “Jondai?” kataku gugup karena aku pernah mendengar hal itu saat pertengkaran jondai dan Rafael.
                “ Pasti kamu dengar saat pertengkaranku ya?”
                Akupun mengangguk. “Lalu gimana?”
                “ Ya aku diperbudak olehnya. Aku tak menyangka ternyata itu adalah rumah  wanita simpanan ayahnya Jondai. Jadi sebelum ibu jondai menghianati ayahnya Jondai, ayahnya Jondai lah yang pertama berkhianat. Tapi biarlah aku sudah makan dan tinggal disanapun beruntung. Aku tetap tak menyalahkan Jondai. Jondai tetap sahabatku. Walaupun kini Jondai membenciku karena kehilangan ibunya yang dibawa ayahku.”
                “ Gue ngerti perasaan loe fa. Sungguh gue kagum sama loe. Setidaknya  jika gue jadi loe gue sudah benci sama Jondai dan benci pada ayahmu yang tak bertanggung jawab itu.”
                “ Udah lah itu kopinya udah datang?” dia mlirik ke arah gelas yang datang.
                “ Yeeeee.. Gue gak sabar meminumnya?”
                “ Eitsss aku duluann..” dia mengambil duluan kopi yang ada dalam cangkir itu. Dan seketika kami tetawa gembira. Kopi panas itu adalah hobi kami. Sangat indah saat ada hujan, aku bercerita, ngopi, sekaligus lagu balada bersama Rafael. Andai dia menatapku serius sayangnya tidak?

Kejujuran yang terungkap
                “ Vin loe sudah tau gak yang namanya putri-putri itu siapa sih nama panjangnya?”
                “ Kenapa loe na? kayaknya segut amat ma si Putri,”
                “ Ya pengen kenal Sudah tau gue kan pengen belajar musik.”  ucapku semangat.
                “ Cielah.. jangan-jangan karena loe suka sama si cowo hitam itu ya, rafael? Ya kan ngaku?” ucap Vina sambilnya terkekeh-kekeh.
                “ Apa sih loe? Jauh dari kenyataan, gue cuma pengen belajar kok!, toh gue juga suka musik apalagi instrumen-instumen mandarin. Wloo!” walaupun dalam hati ada teerbesit iya untuk mendekati Rafael.
                “ Iya deh, no what-what..” Vina masih terkekeh-kekeh.
                “ Nanti kenalin dong yah sama si Putri itu?”
                “ Oh, sekarang juga bisa sesudah bel pulang sekolah, tapi..” vina berpikir yang entah benar mengingat atau apa. “ Ya. Biasanya masih ada saat gue pulang tapi kita harus cepat-cepat, gimana mau?”
                “ Oh tentu, gue siap  mudah-mudahan gue bisa bertemu dia,”
                Saat bel pulang kami langsung tancap gas  mobil menuju rumah imperium musik sebelah rumahnya Vina. Vina yang mengemudi ugal-ugalan tak peduli ada polisi atau tidak tapi aku selalu was-was karena dikit-dikit rem ngedadak. Itupun selalu ada kucing yang lewat. Entah kenapa?
                “ Nah kita sampai? Tuh putri?” Vina menunjuk seseorang yang sedang memegang biola. Dalam hatiku waw masih ada bidadari yang cantik ternyata..hehe.
                “Ohitu,  yu kita kesana?”
                “ Oke cabut,”
                Kamipun menuju rumah imperium musik itu. Belum sampai kekelas. Putri sudah keluar dan bersiap menyambut kami. Namun Vina tanpa malu-malu menyapa.
                “ Siang Bu guru Putri”
                “ Wah.. ternyata ada tamu istimewa. Kakaknya silvinakan?”
                “ Begitulah,  gue Vina dan ini temen gue namanya Mina.”
                “Oh.. aku Melodi Putri Sanjaya. Senang bisa bertemu dengan kalian berdua. Oh ya silakan masuk?”
                “ Anak-anak udah pulang Bu?”
                “ Aduh jangan panggil Ibu, aku jadi gugup. Lagian aku juga masih seumuran kalian, panggil saja Melodi. Iya mereka udah pulang. Tumben kalian datang kesini memang ada keperluan apa?”
                Aku hanya terdiam saja dan yang menjawab pastilah Vina.
                “ Eh iya.. lupa maksud kedatangan kita kesini kita ingin belajar musik, eitss maksud gue, Mina ingin belajar musik dengan loe, mungkin loe bisa mengajarin dia?hehe”
                “ Oh, baik saya siap. Mungkin besok minggu Mina bisa kerumahku datang, kita akan belajar musik, gimana?”
                “Tuh! Mina gimana mau gak?”
                “ E...e .. iya dong. jangankan besok sekarang juga gue siap.” Aku terkekeh-kekeh
                “ Oh sekarang, Ayo!! Mungkin Mina bisa ikut aku keruang musik bawah sana kita belajar musik dasar dulu baru sampai ke alat. Gimana?”
                “ Setuju.” jawabku semangat
                Kamipun berjalan menuju ruang bawah untuk belajar dasar musik. Ya dalam pembawaannya sangat enak dan menyenangkan. Aku tidak merasa jenuh belajar dengannya. Sedikit- dikit kami ketawa penuh karena kekacawanku dalam musik yang tak tau not balok- balok pun? Hingga tiba saatnya aku mengerti. Belajar musik dasar dalam enam jam penuh telah aku kuasai dan jam lima sore kami akan bersiap pulang namun sebelum pulang aku meminta alamat melodi dulu dan melodi meminta alamatku. Kami saling bertukar alamat rumah. Setelah itu aku cabut dari rumah imperium musik. Terkecuali melodi yang diajak pulang oleh kami tidak mau karena sudah ada yang mau menjemput, katanya.

                Malam yang sunyi menyelimuti kalbu. Aku melamun dan melamun memandangi foto-foto temanku yang dulu pergi. Aku sedikit teringat akan masa lalu yang indah. Terhenyut dalam hatiku. Teman teman yang aku janji menjagaanya. Teman teman yang dulu pernah singgah dalam benakku. Teman yang selalu membuat aku tersenyum. Mengubah ahayal menjadi kenyataan. Dia teman lelaki yang jauh hingga aku tak pernah melihatnya kembali. Kemana dia. Tito ? sungguh kau selalu ada dalam mimpi indahku, kau ada dimalam ini. Aku hanya melamun dan memandangi fotoku bersama lelaki yang pergi, tito. Jika aku melihat fotonya, kulitnya itu hampir sama dengan Rafael. Hanya kulit, namun mukanya jauh berbeda. Dan sikap mereka beda jauh pula.
                “ ah, kenapa sih aku ini. Diakan udah hilang, lebih baik aku buat puisi aja deh..” menulis puisi adalah kegemaranku. Dan bila ada masalah aku tuliskan pikiranku dalam bentu puisi. Itu aku lakukan sejak kelas sepuluh dulu. Aku pun menuliskan pikiranku dalam kertas.
                Untukmu Fajar Berlalu
Hanya hangatnya malam berlalu
Dingin ini telah kau dekapi
Bukankah kau malam yang  bercahaya
Bukankah dirimu bunga banggaanku
                Kau selalu berlalu
                Kau mudah menghilang
                Saat matahari rindu padamu
                Kau malah datangkan bulan
                Saat  kain sutramu leleh
                Kau panaskan aku dengan api
Fajar...kini fajar tlah berlalu
Menggantikan bulan
 Berharap ada bersamamu
Berharap gelapmu selalu ada cahaya.

                “ Gue pikir loe salah Vin?”
                “ Salah apa? Coba loe pikir jika loe susah-susah mikir and loe putus asa ya mending loe harus..”
                Belum saja Vina lanjut bicara Rafael memotong pembicaraan. “ Mina hey..” teriaknya dari kejauhan. “ Hey baru dateng loe?eh,”
                “ Yaps sorry.. loe ada perlu apa kayaknya serius amat?”
                “ Oh, aku cuma mau bilang nanti pulang sekolah kita ke toko almust yu? Anterin aku dong.. yah.. yahh.. yahh?”
                “ Loh!! Emang loe mau cari apa ditoko itu?”
                “ Aku mau cari harmonika nih? Kebetulan sekarangkan deket tuh ma ujian praktek musik, aku mau coba sesuatu yang baru, mau kan? Oh ya Vin kamu juga dong yah?”
                “ Oh, oke gue  setuju..” jawab Vina sambil tersenyum. “ nah loe ikut gak na?”
                “ Ya gue terserah loe Vin. Loe ikut gue juga ikut.”
                “ Oke siap, thans for all”
                “ Nah sampai, inilah toko almust untuk menjual alat-alat musik, let’s go?”
                “ Oke bhratda..”
                Akupun masuk ke ruang alat-alat musik. Disana kami berjalan-jalan melihat-lihat alat musik. Dan terbesit dalam pikiranku aku ingin membeli sesuatu alat. Aku juga butuh untuk nanti praktik ujian seni musik. Tapi apa ya, sesuatu yang berhubungan dengan alat musik dan lagu balada. Apa ya?. Ah aku beli gitar aja deh lagi pula aku ingin sekali belajar gitar dan setelah itu aku ingin belajar gitar bersama melodi. Ya aku akan beli gitar.
                “ Oh ya bhratda, gue ke sana dulu ya..” sambil menunjuk kearah blok gitar.
                “ loe mau beli gitar na?” ucap Vina heran.
                “ Ya gitu deh,”
                “ Terus siapa yang ngajarin?”
                “ Tenang aku juga bisa ngajarin kamu kok,” kata Rafael.
                “ Ah, gak usah repot-repot gue sudah ada gurunya kok,”
                “ Emang siapa na?”
                “ Ah gak usah tau kalau nanti gue udah mahir maen gitar kita tanding gimana?” aku meninju dadanya, tinju bercanda.
                “ Oke siapa takut!!” Rafael membalas dengan jitakan dikepala.
                “ Aww..sakit tau,  ya udah gue san dulu yah?”
                Akupun menuju ke blok gitar. Disana aku sedang memilih-milih gitar yang indah. Ukiran gitar ada yang sangat indah. Ukirannya seperti ukiran batik khas jawa barat. Lalu aku lihat-lihat lagi. Tak sadar ada yang menyapaku dari belakang.
                “ Hey.. kamu lagi ngapain?”
                Seorang wanita dengan rambut tergerai sebahu, warna rambutnya agak kemerahan dan memakai gaun ungu berpolet putih. “ Waw putri.. cantik banget,  loe ini memang putri yah?”
                “ Ah, kamu bisa aja, tidak segitunya kali. Oh ya lagi cari apa disini? Sendirian?”
                “ Ya, gue lagi cari gitar nih? Kebetulan sekali gue bertemu loe sambil gue  ingin  menanyakan sesuatu. Ngomong-ngomong kamu juga sendirian? Lalu mau kemana pake gaun segala? And gue sama temen-temen gue. Mereka sedang mencari alat musik juga?”
                “ Aku sama someone, dia  sedang di blok harmonika, katanya sih mau tes ujian akhir sarjana. dan aku mau ke acara ulang tahunnya temen someoneku, aku diundang untuk menyanyikan lagu. Biasalah orderan,” jawabnya dengan senyum manis.
                “ Wah loe ini.. emang pinter nyari duit ya!! Loh sama temen gue juga lagi di blok harmonika alasannya sama buat nanti ujian akhir, bedanya itu ujian akhir sarjana, kalau temen gue ujian akhir sekolah, eh ya kapan-kapan ajarin gue maen gitar yah?”
                “ Iya siap.. oh ya aku duluan yah.. kayaknya aku ditunggu dibawah ni.. dia udah selsai.. dah sampai jumpa nanti, maaf aku terburu-buru nihh..”
                “ Ya.. hati-hatI!!” dia meninggalkan dan lari kecil untuk menuju keluar.
                Akhirnya sekian lama sudah aku mencari gitar dan ketemu. Akupun membeli gitar yang ada corak batik khas jawa-barat itu. Dan Rafael juga membeli harmonikanya. Setelah semua beres kamipun cabut dari toko almust.
                “ Nah kamu harus tahu dulu kunci A ada A minor n A mayor, ada kunci G, F, E, B, C,D kita mulai dari yang mudah kunci A” akupun berusaha memetik dan memindahkan jari-jariku sesuai dari kunci A ke kunci G misalnya lalu ke D dan kunci-kunci lainnya hingga dalam waktu tiga jam aku kuasai kunci-kuncinya namun untuk pemindahan kunci  ke kunci lainnya sangatlah susah. Saat belajar aku hanya mengangguk dan menganguk saja.  Dan sesekali aku berhenti karena lenganku agaknya tak terbiasa. Lalu kamipun tertawa bersama saat menceritakan kisah cinta monyetku diwaktu kecil.
                “ Nah kalau kisah cinta yang menarik loe gimana?”
                “ Ah kalau aku gak terlalu suka yang namanya cinta, aku sudah tak berminat lagi mencinta,”
                “ Loh, bukannya loe udah punya someone?”
                “ Ya, karena terpaksa.”
                “ Emsss.. mengapa?” aku bertanya ceplas-ceplos tak aku pikirkan perasaannya. Wajahnya seketika berubah jadi muram lalu dia ketawa.
                “ Kayaknya aku sudah percaya sama kamu, Mina, mungkin saatnya aku cerita sama kamu”
                “ Maaf.. gue ingin tau saja putri.. tapi tak apa kalau loe gak bercerita, loe sudah percaya pun gue sangat senang.”
                “ Tak apa, aku akan cerita sama kamu,”  Melodi duduk di sampingku. Dan siap memulai bercerita.
                “ Dulu waktu aku kelas dua SMA di bandung, aku orang yang biasa-biasa aja, banyak orang yang tak suka padaku karena aku lemah, namun disisi lain banyak juga yang suka padaku terutama cowo-cowo. Mereka selalu merayuku, tapi aku hanya diam tak peduli dengan siapa itu, sekalipun dia tampan dan keren menurut orang lain, tapi aku tak suka, hatiku tak merasa mencintai seseorang. Aku hanya memikirkan belajar dan belajar, tak peduli orang lain manggil aku kutu buku atau sebagainya. Hingga..” ceritanya terhenti. Aku hanya mengamati wajahnya yang ceria dan sesaat dia menatap hujan diluar.
                “ Hingga waktu itu seorang lelaki selalu mendekatiku, menyapaku itu hampir tiap hari dia lakukan. Dia selalu memberi bunga padaku, tapi aku buang bunga itu didepan mukanya sambil tersenyum palsu. Saat  kejadian itu yang berulang-ulang dilakukannya, aku melihat dia selalu tersenyum padaku, walaupun aku selalu acuh padanya dan berkata pergi sana dasar muka jelek. Aku bilang begitu,” sesaat aku melihat muka kecewa pada diri melodi.
                “ Lalu dia tersenyum memandangku, ‘iya putri’ dan pergi dengan tersenyum, seperti tak ada beban, Dia ikhlas mencintaiku. Suatu hari Dia bermain gitar dengan senangnya dalam acara pentas seni semester tiga. Dia memakai kemeja panjang santai dan jelana jeans berwarna hitam. Keren sekali. Dia tampil memukau di atas panggung. Menyanyi dengan senangnya semua. Hingga selsai dia bernyanyi, semua orang bergemuruh dengan tepuk tangan. Disitulah hatiku muncul untuk dia. Setelah libur semester tiga hatiku ingin mengungkapkannya kepada orang itu, namun setelah aku dengar berita dari temanku katanya dia pindah sekolah. Aku tertegun dan amat merindukannya. Hingga kinipun aku sangat merindukannya. Aku ingin sekali bertemu dengan dia.” Tak sadar aku melihat dia menangis.
                “ Loh, jangan cengeng dong?? Sabar nanti juga pasti loe pasti bertemu sama dia,,”
                “ Ya doakan saja na.” dia lalu mengusap air matanya dan langsung bertanya. “ kalau kamu gimana cerita cintamu yang pertama?”
                “ Sepertinya gue juga sudah amat nyaman curhat pada loe. Gue pikir gue juga punya cerita cinta,”
                “ Makasih yah na kamu dah percaya padaku.”
                “ Ya gue juga put, mungkin langsung saja.”
                “ Emmm..” dia merapat kembali didekatku.
                “ Dulu gue juga punya seseorang yang sangat gue cintai.. loe tau.. kita mencintai dari kecil lohh?”
                “ Oh ya? Memangnya bagaimana?”
                “ Saat itu gue masih tinggal didesa dan gue masih berumur enam tahun, sedang dia berumur sembilan tahun. Sekolahnya  bersebrangan dengan Sekolah gue hanya terhalang oleh jembatan dan sungai. Dulu pertama kali gue bertemu dia, saat gue menaiki motor bersama ayah. Kami saling berpandangan. Walaupun  hanya sesaat gue sangat bahagia. Disaat orang lain menganggap cinta waktu kecil adalah cinta monyet tapi lain dengan ini gue rasa ini bukan cinta monyet. Cinta yang sangat menyejukan hati. Emm..” Melodi sangat memperhatikan ceritaku.
                “  Setiap kali gue menaiki motor gue selalu berjumpa dengannya. Kami selalu tersenyum. Pernah suatu saat dia melambaikan tangan dan gue melihatnya. Guepun melambaikan tangan. Suatu hari ada perlombaan bernyanyi antar SD, gue terpilih untuk membawakan lagu wajib. Gue  berharap bertemu dia. Dan akhirnya kami bertemu. Kami saling berkenalan. Dia tersenyum pada gue. Waktu itu gue kelas dua SD dan dia kelas lima SD. Perkenalan kami tidak sampai disitu, kami  selalu bermain setelah pulang sekolah. Kami selalu  pergi kesawah mencari capung. Dan bercerita dongeng-dongeng cina.”
                “ Sampai akhir ujian nasional SD kami berpisah dia pindah ke jakarta. Tanpa kabar. Tapi gue selalu dengar dari paman bahwa dia sangat mahir main biola katanya, yang paling menakjubkan dia pernah juara umum. Gue selalu dengar berita-berita itu. Dengan mendengar berita diapun  gue sangat senang. Kalau gue deskripsikan dia mempunyai kulit warna hitam, matanya lentik seperti wanita, dia senang bermain biola dan rambutnya berpusar kekanan. Sampai akhir inipun gue belum bertemu dengannya. Dan satu lagi paman suka mengirim foto-foto dia saat berada di jakarta. Sampai saat ini gue selalu pajang disana.” Aku menunjuk foto yang terpajang dikamarku. Foto lelaki yang sekarang berubah warna kulit jadi putih. Bibirnya warna merah seperti darah dan matanya tetap lentik seperti cewe.
                Melodi mendekati foto yang terpajang itu. “ Ini cowo yang kamu maksud?”
                “ Iya.” aku terkekeh-kekeh.
                “ Aku tau siapa dia?” aku tersentak saat dia berkata aku tau siapa dia?. Lalu mengapa dia tau?. Kataku dalam hati. “ Dia Tito kan?”
                “ Hah, sumpah mengapa loe tau?” hatiku semakin tersentak mendengar itu. Aku berlari kecil kearah Melodi. “ coba jelaskan sama gue darimana loe tau? Hubungan apa loe dengan Tito?”
                Melodi tersenyum dan kembali ke tempat duduknya, lalu aku mengikutinya, dan duduk disebelah dia. Sesaat dia merenung. Lalu mulai berkata.
                “ Dia adalah someoneku itu. Dia menjadi kekasih terpaksaku. Kamu tau  aku tidak mencintainya? Karena itu cinta yang kujalani terpaksa. Mungkin aku sangat rela kamu bersamanya. Kamu pasti mau bertemu dengannya?”
                “ Sungguh? Gue tak mau mengecewakan loe, tapi bener loe setuju akan hal ini?”
                “ Mina kamu adalah sahabatku, aku sangat rela daripada tito mendapat cinta palsu mending kamu saja yang memberi cintamu padanya, pasti kalian akan saling mencintai juga”
                Aku langsung memeluk sahabatku Melodi, aku menagis bahagia, karena aku diberi kesempatan bertemu dengan Tito. “ Makasih Melodi, loe sahabat gue yang baik,”
                “Emmm..sama-sama.” Melodi juga tersenyum dan aku liat senyumnya tulus tak terpaksa.
Inilah hal kejujuran yang terungkap.

                                       By Narti S.