Kelompok Balada
Embun pagi yang cerah dengan
semilir angin mewarnai pagi ini. Di ufuk timur matahari seperti enggan tuk
berbicara. Entah dia malu pada embun pagi atau marah pada embun pagi. Sungai
mengalir rindu tak tertahan apa yang ada
dalam jiwanya. Airnya begitu suci bergeming diatas tanah. Melihat awan
sepertinya bersahabat dengan sungai itu. Aku begitu malas keluar sepertinya.
“
Mina.. bangun mau sekolah gak? Ini hampir jam 7 tau, cepat turun!!” Ibuku
memanggil dengan keras.
“Bentar
bu... aku malas sekolah sepertinya awan itu mendung, aku libur aja yah?” pintaku. Tiba-tiba
terdengar suara ketukan pintu yang keras.
Pasti itu Ayah, huh bahaya!!
“ Mina
kalau kamu tidak sekolah, papa akan hukum kamu!!. Ayo cepat bangun dan lekas
berangkat.” suara Ayah begitu memeking di telingaku.
“ Iya..iya
beres.. nanti sebentar lagi keluar.” jawabku. Hah dasar papa satu ini cerewet banget!!.
Akupun
beranjak dari kamar dan pergi ke sekolah dengan ayah. Huffhhhh hari ini mendung
banget sihh? Bikin orang gak semangat belajar aja. Dari mobil saat dijalan aku
melihat Rafael manaiki motornya yang butut. Andai aja aku bisa berkenalan
dengan dia. Berharap??. Sesampainya di sekolah. hujan pun mulai turun aku
berlari sekencang-kencangnya ke kelas. Tiba- tiba brukkk aku terjatuh hingga membuat buku- bukuku basah. “Oh.. no..
my book.. ahh... “
“ Upss
sorry.. sorry.” spontan orang itu menjawab.
“ yaps.. tidak apa-apa.” Dia berlari
terburu-buru tanpa mengambil bukuku yang
basah. Hah dasar,orang asing itu siapa
dia?. Pertemuan yang misterius.
∞
Di kelas yang begitu sempit
karena jumlah muridnya banyak. Aku melamun dan melamun tapi entah yang
kulamunkan apa.
“ Woii..
Mina how are you?”
“ Right.
You?”
“ Right.. oh yess. Loe ikut gak
minggu depan sekola kita kemping plus pentas seni gitu?”
“ What? Gue kok gak tau?”
“ Makanya dengerin dulu jangan
cuting gitu dong? jadi gini bhratda, rencananya sih semua siswa kelas XII doang
and nanti tiap kelas dibagi kelompok seni secara terpisah, so kelas kita and kelas
XII lainya digabung untuk pentas seni. Jadi kemungkinan kita juga gak
sekelompok, you are understand ? ”
“ What?
Berarti kemungkinan gue juga sekelompok dengan kelas lain gitu?” wajahku mulai
panik.
“ This
right bhratda.” jelas Vina seperti
kesenangan.
“ Terus
pembagian kelompok kita kapan?”
“ Ada
kemungkinan sekarang pas pulang sekolah”
“ Tau gak gue bisa-bisa muntah gerobak didepan
lu Vin.. uoooooooo..”
“ Dasar loe.. monyet kampus.”
“ Daripada loe kambing congek.” kamipun tertawa
riang.
Aku
sangat seneng banget punya sahabat karib seperti Vina. Dari dulu sampai
sekarang sahabatku tetep aja Vina.
∞
Hari itu tepatnya pengumuman
kelompok pentas seni. Aku mendengarkan dengan seksama. Dilapang sangat riuh
dengan murid-murid. Aku dengar dan mendengar Raymon, Rafael, Juwita, Saskia, Yuna,
Mina, Juna, Kana, Hara, Iwa, Jondai, Wawan, Vina, Gindar, Fanji, Laya, Koko,
Miga, Jae, Oki, Putra, Cogi, Hoho dan Lora kalian semua masuk dalam kelompok balada.
Hah aku senang banget pertama aku satu kelompok dengan Vina sahabatku. Kedua
aliran musiknya adalah balada. Aliran musik yang aku suka.
“ Vina..
kita satu kelompok yee.... gue satu kelompok dengan kambing congek..haha”
“ Gue
juga satu kelompok dengan monyet kampus. yee”
Hari
itu aku bahagia. Pas bubar dari lapang aku mendengar suara. “ Kelompok balada
harap kumpul di sumber suara, sekali lagi kelompok balada haraf kumpul di
sumber suara” kata orang itu. Aku pun kumpul disana. Dan ternyata orang yang
ngomong adalah orang yang kemarin menambrak aku dan pergi begitu saja. Huh
dasar ternyata aku sekelompok dengan dia.
Dia
berhitung-hitung orang yang sekelompoknya. “ Ok.. sip jumlah kita 24 oran,
lumayan baik mungkin kita berkenalan dulu. Maaf menyita waktu pulang kalian. Kenalkan
nama saya Jondai, oh ya, mungkin besok
gimana kalau kita kumpul lagi setuju?” dia bicara dengan gaya yang formal dan berpendidikan.
“
Setuju” semua bersorak termasuk aku.
Dari
meja besar aku melamun selalu. Dan entah apa yang aku lamunkan. Hari selasa
kami latihan persiapan pensi. Aku berharap Vina cepat kumpul supaya aku bisa mengobrol
dengannya. Eh tak lama kemudian dia mengirim pesan bahwa dia tidak akan hadir.
Menyebalkan!
“ Hai..
sendiri nih?”
“ Emmm..”
jawabku singkat. Dan antah siapa yang menyapa itu.
“ Oh
ya.. kenalin aku miga, kamu mina kan?”
“ Iya.”
loh kok dia tau namaku? Pikirku dalam
hati.
“Satu
minggu lagi kita kemping dan latihan hanya diberi waktu satu minggu. Nyebelin
banget sihh” kesalnya.
“ Sepertinya
kamu tidak terlalu suka pentas seni ini ya?”
tanyaku sambil ku ceplas-ceplos. Uppsss
terlanjur nanya.
“
Sepertinya sih, tapi aku berusaha suka, lihat!! Orang yang namanya Jondai itu sepertinya
gesit banget. Termasuk Rafael dan juwita. Sepertinya mereka suka banget musik. Kalau
kamu suka musik atau tidak?” aku melongo dan terdiam saat lontaran kata
darinya.
“
Jawabannya entalah apa ya? Antara suka dan tidak, karena aku bukan turunan
pemusik kali ya?. Lagipula aku hanya suka instrumennya saja bukan dengan
liriknya. Kalau boleh tahu kamu kelas XII berapa?
“ XII 2
IPA, sama dengan jondai and rafael itu.”
“ Oh..
kamu tidak bergabung sama jondai and rafael?”
“ Aku
tidak terlalu menyukai yang namanya jondai jadi aku tidak mau bergabung.”
“ Oh,
begitu ya? Sayang sekali.”
“ Maksudnya?”
“ Ya berarti hubungan teman kalian belum
akrab?”
“
Sepertinya, tapi aku menyukai lelaki yang namanya Rafael dia selalu tersenyum
walaupun orang lain marah padanya.”
“
Baguslah, Ingat jadikanlah temanmu menjadi Sahabat karena Sahabat adalah Kekuatan
Hatimu.”
“
Baiklah, aku selalu senang berteman, ternyata kamu menyenangkan yah? Aku kira
kamu orangnya jutek.”
“Jadi
kamu mengnganggap aku jutek? Haha, itu salah besar.”
“ Iya
aku minta maaf, wajahmu merah jika kamu marah kaya kepiting rebus, haha”
“ Apa?
Kalau begitu aku akan panggil kamu kacang mende?”
“ Mengapa?”
“ Karena
kamu pendek dan gendut. Vish!!”
Hari
selasa itu aku mempunyai teman namanya Miga. Ternyata dia tidak ada bedanya
dengan Vina. Setelah kami besuka ria dengan Miga aku meminta izin untuk ke WC,
saat itu aku mendengar percakapan rafael dan jondai.
“ Loe itu
yang egois, gue pikir loe gak pantes tetep aja ngotot.” sebrotan kata keluar
dari mulut Jondai.
“
Apa? Gue hanya ngasih saran dan itu mungkin terbaik tapi loe yang egois.”
tamparan dari Jondai hampir tak mengenai Rafael.
“ Sudah cukup pembantu gue udah muak dengan
loe. Ingat gue gak akan sungkan-sungkan pecat loe. Ingat itu!!” Jondai keluar
dan aku cepat-cepat bersembunyi. Tak lama setelah itu Rafael pun keluar dan aku
mencoba mendekatinya.
“ Boleh aku temani?”
Dia tak menjawab sepatah katapun.
Aku coba bertanya kembali. “ Tidak, bisa tinggalkan aku sendiri, aku mohon.”
“ Baik” kataku. Dia seperti
melihat beban yang telah larut dan kini menggumpal dalam hati.
∞
Daun kentut
Hari minggu kami semua berangkat
ke puncak Bogor untuk merayakan pentas seni disana.
“ Mina..”
“ Hai .. tumben??”
“ Aku kesini mau minta maaf soal
kemarin, aku..”
“ Tak usah minta maaf. Bukan
salah kamu kok, gue maklum.”
“ Ya sudah terima kasih, Mina
boleh aku mengobrol dengan kamu nanti malam?”
“ Ee...eee iya boleh asal ada
syaaratnya?gimana?” aku berusaha untuk tidak gugup, yes akhirnya gue bisa ngobrol sama rafael, hoooreee, tapi gue harus
bersikap sewajarnya.
“Emang apa syaratnya?”
“ Kamu harus bantuin aku cari
kayu bakar, tadi Pak Tono suruh gue nyari kayu bakar..gimana?”
“ Ooo..siap..”
Kamipun mencari kayu bakar
bersama-sama. Aku dengan Vina dan Rafael dengan miga.
“ Bhratda aku kesini dulu ya.. kayanya disana
banyak kayu bakarnya.”
“ Iya ati-ati bhratda!!”teriak Vina
Aku pun mencari sendiri kayu
bakar. Hutan begitu sunyi dengan nyanyian angin indah. Aku terenyuh
mendengarkan nyanyian itu dan ku melentangkan tanganku hingga kayu bakarku
jatuh. Aku begitu menikmati. Tapi seperti ada yang merangkulku di belakang. Dia
siapa? Kurang ajar pikirku?. Aku melirik ke belakang tak ada siapa-siapa. Tapi
yang merangkulku masih ada. Siapa dia? Aku melirik kebawah. Aku sampai
terkejut. Sangat takut.
“ Ulaaaaaaaarrrr.. tolong
aku..... toloooooong.” Aku begitu panik. Ular itu melilitku.
“ Mina tenang, aku ada disini
kamu harus tenang.” Rafael berusaha menenangkanku
tapi aku masih panik karena ular itu masih ada.
Dari kejauhan aku melihat banyak
orang menyaksikan aku yang panik. Tapi aku menutup mataku karena aku takut. Aku
merasa ada yang mengambil ular yang melilit
itu tanpa takut dari tubuhku. Siapa?
“ Horee... Raymon bagus
kamu..hebat.. gak takut loe sama ular segede itu?” teriakan banyak orang menjawab siapa yang
mengambil ular yang melilitku itu . Dia adalah Raymon.
Sedikit lega karena lilitan ular
sudah tidak ditubuhku. Aku membuka mataku dan benar ternyata raymon mengambil ularnya.
“ Thanks ray.. kamu udah
selamatin hidup gue..”
“ Ular itu menemukan jodohnya”
Apa-apaan dia aku berterima kasih tapi dia menjawab begitu.
“ Ya memang aku orang aneh.
Sama-sama..” jawabnya. Dia hebat bisa
membaca pikiranku ucapku dalam hati.
“ Kamu tidak apa-apa kan na?”
“ Tidak.”
“ Syukurlah.”
“ Eh rafael orang itu hebat betul
ya, tapi ada yang aneh dengan omongannya tadi.”
“ Ya memang dia aneh. Kamu tau
gak saat makan dikantin dia makan sambel lima sendok itukan aneh?”
“ Aduh loe itu oon atau bego?. Ya
wajar kalau lima sendok bukan aneh gue juga delapan sendok. Jadi itu gak aneh,
dasar loe barong hitam?”
“ Oh.. berarti kamu dong yang paling aneh makan sambel sampe delapan sendok.”
“ Apa loe bilang.. dasar barong
hitam sini loe gue cabik- cabik...ihhh” Walaupun baru kenal hampir satu minggu tapi aku sangat senang selalu
bersama rafael. Dia seperti orang yang dulu hilang. Tepatnya orang yang
kusayangi hilang.
∞
Api unggun yang hangat. Cuaca
puncak yang membius dekap kedinginan. Serta nyanyian dari kelompok lain yang
mengharu qalbu. Tema lagu yang ditampilkan malam ini adalah sad glora melodi.
Atau lebih tepatnya kesedihan dan keharuan.
Aku meresapi lagu dengan
memejamkan mataku dan hanya suara lagu yang kudengar dengan merdu. Serasa ada
yang memegang tanganku. Aku cepat-cepat melihat dengan jantungku yang berdekup
kencang karena aku takut itu ular lagi. Ternyata salah. Itu bukan ular.
“
Rafael jadi kamu, ngagetin aja sih dasar loe barong hitam.”
“ Kamu ngelamun apa sih?” sambil
tertawa riang yang saat itu aku melihat giginya yang putih dengan muka hitamnya
yang manis.
“ Ya.. ngelamunin lagu sad glora
melodi ini lah, kamu suka lagukan, anak seni??masa gak dengerin sih?” sindirku
“ Ya mau, melamunnya sama kamu
yah? ” pintanya
Hatiku berdekup kencang kembali
mendengarnya.
“ Hahaha.. dasar loe barong
hitam” menghilangkan rasa gugupku. “ Katanya loe mau ngobrol sama gue memang
mau ngobrol apa sih?”
“ Perkemahan ini sampai seminggu
berarti minggu pagi pulang ya?”
“ Iya.. emangnya ada apa?”
“ Enggak.. eh mana Vina and Miga?”
“ Kayaknya mereka sama jondai,
entah lagi apa yah,, ehh boleh tanya?” mataku ragu saat melihat wajah Rafael.
“ Akhir-akhir ini kenapa hubungan
antara kamu dan jondai gak seakrab dulu?”
“ Memangnya kamu tau hubungan
kami dulu?”
“ Tidak, karena jondai kan anak
baru sedangkan kamu sudah lebih awal pindah ke sekolah ini. Ya aku hanya pengen
tau aja kalau kamu enggak mau cerita gak apa-apa.”
“ Baik aku akan cerita tapi
jangan disini berisik nihh! Banyak orang lagi.” Rafaelmelihat-lihat tempat yang
nyaman. “ oh disana masbrotha?yuu!”belum juga aku menjawab ayo dia memegang
tanganku dan menyeretku ke tempat yang ditunjuk tadi. Aku berdekup kencang.
“ Nah sini duduk.”
“ Ya..ya..ya.. ayo ceritain
dong?”
“ Ya aku mau cerita tapi kamu
cium aku dulu. ” masih berdekup kencang
“ Kamu itu ya.. mau aku cium,
baik mendekat!! mau cium yang mana?” inilah
saatnya gue kerjain loe dasar otak mesum, pikirku.
“ Seluruhnya?hihi.”
“ Oke siap, kamu tutup mata.?
diem..” aku siap mengerjai rafael dan untungnya ada daun kentut ini, baiklah
mulai!! aku melambaikan tanganku kepada si Hoho dan memintanya untuk kesini
lalu memberi kata isyarat tolong olesi dia dengan daun kentut ini!! . Aku
menunjuk kepada Rafael.
“Mina kamu enggak ninggalin aku
kan?”
“Enggak Rafael sayang.”
Ternyata Hoho mulai aksinya dia
mengolesi pipinya Rafael pake daun kentut itu, Rafael membuka matanya. Dia
sangat kaget karena yang menciumnya adalah Hoho si bencong centil lalu Iapun
menjerit. “ Mina, awass kamu ya!!” sepertinya Rafael kapok.
“ Makanya jangan bergaya di depanku
emang enak dikerjai.. loe bukan di cium brow tapi di olesi daun kentut. Salah
sangka aja..hahaha..”
“ Aku cuma bercanda tau.” Katanya
dengan wajah kesal.
Kami pun tertawa riang. Tapi
akhirnya Rafael tidak bercerita malah
kita bercanda riang saja. Pukul menunjuk ke arah jam dua subuh tapi mataku tak mengantuk
sedikitpun. Diluar sangat ramai hanya tendaku saja yang orangnya sudah tidur
semua termasuk vina yang terlelap dalam mimpinya. Aku ingin keluar tapi udara
sangat dingin. Lalu aku mengintip ternyata diluar. Tapi aku rasa cuacanya amat
dingin hingga terpaksa aku memejamkan mataku berusaha untuk tidur.
∞
Cuaca mendekap anganku. Merujuk
keufuk barat tak sendiri hanya semilir angin. Pohon rintik yang anggun
meneteskan air dari embun pagi di Bogor. Masih pagi gini udah pada sibuk keluar
masuk. Kepalaku pusing banget sepertinya kurang tidur semalam. Hah males
bangun.
“ Mina.. bangun loe itu gawe’e
ngorok teruss.” terdengar suara yang
amat cerewet emang satu dua dah sama mamahku.
“Ih, masih pagi tau.” aku
menyelimutkan diri dalam selimut saking dinginnya.
“ Aduhh ini tuh udah jam
sembilan.. woiii bangun.. kerek bener loe?”
“ What? jam sembilan.” aku
terperanjat kaget, bisa-bisanya aku kesiangan begini sampai jam sembilan. Aku
lirik kanan kiri ternyata orang lain sudah tidak ada ditenda. Aku coba liat
keluar. Dan pas aku buka pintu tenda. Hilir mudik orang-orang berlari. Tambah
lagi terdengar suara untuk kumpul, sepertinya pak Tono.
“ Ayo belut kerek bangun.. gue
tunggu loe disana yah!!” Vina menunjuk ketempat yang dituju disana ada miga dan
Rafael.
“ Tunggu gue kesana. Gak mandi
ah. Dingin..”
“ Idihh jorok amat sihh loe dasar
belut kerek. Iya setidaknya loe cuci muka dulu dong tuh muka loe berantakan
banget dan emm bau dahdir loe tuh!!.” jelasnya sambil mngenduskan hidungnya.
“ Oke loe duluan aja deh.. gue
cuci muka dulu.”
“ Sekalian cuci mulut loe yang
bau,” dia terkekeh kekeh.
“ Iya cerewet gue ngerti.”
Selesainya aku pun beranjak dan
bergabung dengan teman-temanku.
“ Hay bhratda...”
Kami pun menyaksikan
kelompok-kelompok pentas seni lainnya. Kami bersuka riang bercanda tawa dan hal
aneh lainnya kita selalu lakukan bersama kelompok bhratda.
∞
Hari kian hari kini aku lalui. Hingga tiba
saatnya kelompok melodi balada tampil di ujung acara. Malam itu kami siap-siap untuk
tampil. Aku melihat syal warnanya merah cerah. Tunggu dulu aku sempat melihat syal ini, tapi dimana yah. ohh aku ingat
ini syal jondai.. kok ada ditendaku.. dia memangnya pernah ketenda ini? Pikirku.
“Ah, mending aku balikin aja deh.
Ini syal kok aneh. Yang punya kan Jondai Urania tapi ada huruf M. Ah mungkin
milik si Juwitanya kan kepanjangannya Mandala.. tapi coba kasih Jondai dulu aja deh, siapa tau bener miliknya.”
Hampir aja sampai di tenda, aku melihat
drama pertengkaran lagi. ini pasti
Jondai dan Rafael lagi. setelah aku mendekat ternyata benar. Itu suara Rafael.
Aku pun berusaha menyimak apa yang mereka bicarakan.
“Pokoknya setelah ini gue akan
balas dendam ma loe. lihat aja!! sekali lagi loe deketin dia.. aku akan
mengambil orang yang kamu cintai. Camkan itu baik-baik rafael!!”
Setelah itu Jondai kelua. Aku pun
mengikutinya dan berusaha sewajar mungkin pada teman sekelompokku ini.
“ Woii ..bos ni syal loe kan?”
“ Oh, loe dapet dari mana?”
“ Syal ini gue temui di tenda
gue.. entah lah ujug-ujug gitu” diapun mengambil syal itu dari tanganku. Dia
mengambil syal itu dan pergi begitu saja.“ Eumss” tak ada ucapan terima kasih itu bagus kataku dalam hati. aku pun berbalik dan menuju tenda tadi
saat aku membuka gordeng tenda Rafaelpun muncul dan aku hampir saja
menubruknya..” ehh barong item..” kataku terkekeh-kekeh.
“Hay!”
“Malam ini kita tampil
brow..” aku begitu salting melihatnya.
Malam itu kami kelompok balada
pun tampil. Dari awal acara semua bernyanyi riang. Rafael bermain gitar amat
harmonis dan Jondai bermain bas sangat bagus. Sedang yang lainnya bernyanyi
mengalun seperti angin. Tapi pas reff tiba kami menyanyikan. Harmoni itu pecah
bagai pasir terbawa angin. Suara gitar tak karuan dan melodi dentum balada hancur.
Saat pentas seni selsai.
“ Sudah kuduga pasti loe lagi,
loe menghancurkan kelompok gue. Puas!!”
Rafael tak berucap saat Jondai
terus memaki-maki dia. Dia tak berkutip. Juwita menangis entah menangis kecewa
atau menangis takut?. Aku sangat sedih melihat Rafael dimarahi tapi aku tak
berdaya. Sikap Jondai amat keras dan sangat menyebalkan. Pantas saja Miga tak
menyukai dia.
∞
Pagi yang sangat cerah aku bangun
dengan kepala berat. Hari ini tiba
saatnya pulang kerumah. Kami mulai berbenah tenda masing-masing. Rasanya aku
sudah ingin pulang tak betah diperkemahan.
“ Bhratda, besok malem kita
kumpul di rumah gue.? Kebetulan ade gue mau rayain ultah tuh...hehe. gimana mau
ikut ga?”
“
okehh bhratda..”.
Akhirnya tepat jam sebelas siang
kamipun cabut dari kawasan puncak bogor ke rumah masing-masing.
∞
Alunanmu
Malam
ini aku harus menghadiri ultahnya ade si comel vina. Eumss gue ajak siapa yahh.
tak lama aku melamun handphone ku berdering. Siapaya?
“ Hallo,
iya siapa ?”
“ Bhratda...
ayo dong sini udah mulai nih?”
“ Siap
boss, mina bhratda meluncur ke sana?
Siapin ayam goreng, baso, mie ayam aja ya..hehe”
“ Iya
buru, udah gue siapin,gue tunggu loe, awas loe harus datang!!”
Tak ada
suara lagi. Pasti dimatikan. “Okey, gue berangkat.” rumah Vina dekat ko cuma
jalan sepuluh meter saja.
Waw rame banget. Dimana si comel sihh. Gue
malu nih. Yang dateng anak SMP semua. Tapi pestanya kayak anak kuliahan. Hebat
banget!. Makanan banyak banget. Dekorasi
lucu abis. Warna dasarnya merah muda. Dibalut dengan warna biru tua
dengan hijau toska. Waw amazing..
ngomong-ngomong mana si comel dari tadi dicari sana-sinii gak ada. Dimana ya??
“
Woii...ya ampun mina loe!” vina
mengagetiku dari belakang dan menatapku lekat-lekat sambil tertawa lebar.
“
Kenapa loe ketawa, ada yang aneh gitu?”
“ Loe itu
nora banget sih, apa loe gak tau pakaian untuk berpesta?” Vina masih saja
tertawa lebar.
“
Kenapa dengan pakaian gue ada yang bolong? Gue kira tidak ah..” aku panik
karena sepertinya Vina menilaiku dengan lekatnya. Dan aku melihat kebawah
kesamping kebelakang dengan panik.
“ Enggak,
bukan bolong.. tapi loe gak tau situasinya bhratda.. seharusnya kalau nanti
kamu mau kepesta lagi. Pakai pakaian seperti gaun, batik kemeja atau pakaian
yang layak, you are understand?”
“ Ini juga
layak pake tau..” aku kesal melihat Vina
mengejek pakaian kesukaanku.
“
Aduh.. Mina ini itu baju tidur bukan baju pesta, lihat deh sekelilingmu loe
kalah oleh anak-anak SMP !!”
Aku tak
mempedulikan omongan Vina bagiku pakai pakaianpun beruntung daripada gak pakai
pakaian sekalipun. “ Iya.. ya.. ya.. nanti gue usahai, gue pakai ginian berhubung
rumah kita deket aja jadi ya pakai switer n celana tidur aja. Hehe.. udah deh
jangan komen lagi..ngomong-ngomong mana Bakso yang loe janjiin tadi?”
“ Siip
udah gue siapin tapi loe harus ucapin selamat dulu gih sama ade gue..” sambil
menunjuk keberadaan adenya. Silvina ayodia.
“ Waw
ade loe cantik ya, loe kalah sama ade loe Vin, lihat ade lu lebih anggun
daripada loe!! Berbanding terbalik dengan loe yang tomboy.”
“ Ah
loe, tapi kalau gue dibandingin loe..
loe lebih bernotaben tomboy plus norak.”
“ Dasar
loe idung comel malah bandingin gue sih!!” jawab ku terkekeh-kekeh
“ Abis
loe sih duluan, udah cepet sana ucapin selamat dulu sama ade gue.”
“ Iya..ya..ya..
gue keasana bhratda..”
Selesai
mengucapkan selamat kepada adenya Vina aku mengobrol dengan asyik bersama Vina sambil memakan bakso. Di sisi
lain terdengar suara nyanyian dari speaker utama. Aku mendengar alunan musik
yang merdu. Yang menambah suasana ramai di pesta ini. Alunan.. alunann.. siapa ya yang membawakannya.. jarang sekali aku
mendengar suara yang merdu ini. Aku tidak bisa melihat ke atas panggung. Aku
melompat tinggi, karena tubuhku yang pendek dan sedikit gemuk aku tidak bisa
melihatnya. Siapa yang yang menyanyi itu?,
didepan panggung sangat berdesak-desakan.
“ Vin
siapa sih yang nyanyi merdu banget ?”
“ Oh
itu, gak tau tuh namanya gue lupa lagi. Siapa ya? Eumsss putri .. e..e...e...
aduh lupa lagi bhratda.”
“ Yah
sayang aku pengen kenalan tuh.. loe tau darimana itu nama putri?”
“ Ya
itu.. dia itu guru les musiknya sisilvina katanya sih masih seumuran kita. Dia
pandai bernyanyi dan bermain alat musik jadi dia ngadain les buat anak SMPan
yang suka musik. Gituu! ya ade gue salah satu asuhannya.”
“ Ooooohhhh..
eh lain waktu kenalin gue ma dia yah, loe juga ingetin namanya baru kenalin sama
gue. Btw gue kebelet mau puph nih. Gue cabut dulu yahh, duhh gak tahan nihh mau
keluar. salam sama ortu and ade loe. Dahhh!!” akupun pergi sambil berlari
terbirit-birit tak tahan sikuning mau keluar. Dan Putri bla-bla-bla alunanmu
indah sekali.
“ Ah
loe.. gak asik.. makanya kalau makan sambel jangan kebanyakan nanti berabe
jadinya. loe makan sambel sampe enam sendok,
getol banget sihh. Ya deh hati-hati nanti gue sampein!!”
∞
Aku sayang kamu
“Author pop”
“
Idihhh.. jorok banget sih fanthom kamu tuh harus belajar beranak, kamu tau
beranak?”
“ Apa
sih kak.. kakak juga jorok lagi pula apa coba beranak?”
“
Beranak itu bersih dan enak, nah cepat cuci tanganmu.. sana pergi..hus..suss..”
“ Dasar
kakak jelek.. emangnya aku kucing apa? Huh..”
Putri
hanya tersenyum tipis saat adiknya yang berumur
tujuh tahunan sedang memegang pupuk dari feses domba.
Pagi
itu putri berangkat sekolah diantar dengan ayahnya menaiki motor yang lumayan
butut. Saat itu putri sedang berada dikelas XI. Sekolah yang amat indah dengan
kebersihan,sehat dan banyak anggrek tumbuh. Sayang sekali waktu masih pagi
sudah turun gerimis kecil. Putri amat cantik walaupun dia orang tak punya tapi
wajahnya seperti anggun dan kelas atas akibatnya banyak sekali yang ingin
berteman dengan dia. Malahan dia seperti bidadari sekolah.
“Ekhemmmm..
putri..hehe”seorang lelaki mendekatinya dan putri sangat terganggu atas
kehadirannya.
“ Iya?
Apa?” jawaban Putri sangat dingin.
“ Kenapa
sih sms aku gak pernah dibales, padahal aku selalu kirimin pulsa sama kamu?
Kenapa put?”
Putri
hanya terdiam tak memandangi si lelaki hitam tersebut.
“
Baiklah maaf, aku cuma ingin kenal deket sama kamu aja putriku yang cantik.”
“ Kenapa
sih kamu gangguin aku terus.. coba dong kosentrasi sama belajarmu, belajar juga
gak mau jangan harap dapetin aku. Pergi!!” wajahnya merah padam entah marah
atau merasa tak enak memarahi dalam artian malu.
“ Ya maaf mengganggu.” Rafaelpun tak berkata dan pergi hilang
dihadapan putri.
Putri
seperti bersalah padanya. Namun biarlah toh dia suka gangguin kegiatanku
pikirnya.
“ Hey
tak usah seemosi itulah melodi. Kasihan dia kayaknya dia cinta mati sama kamu
tuh ,kalau aku melihat dari matanya dia tulus tak kecewa. Dia selalu tersenyum
pada siapapun. Lihat dia bercanda setelah masalah ini. Rafael itu seperti
manganggap masalah yang menurut kita
besar bagi dia masalah itu dihadapinya dengan senyum. Aku kagum sebagai lelaki
yang tak pernah bisa jadi dia.”
“ Ya
itu sisi lain. Tapi tetap aku tak bisa menerima keadaanya yang sedikit bodoh,
menurutku.”
“ Kamu itu
memang pengennya punya pacar yang pintar yah, eh?”
“ Tidak
seperti itu juga yang jelas sedikitnya
dia punya otak.” jawabnya dengan melontarkan wajahnya ke arah lelaki
disebelahnya. Jondai.
“Yayaya..
terserah putri melodi saja”
∞
Setelah penolakan cinta oleh
melodi dia selalu berusaha tampil harmonis dengan gitar. Dia selalu bermain
gitar dan bernyanyi sesuai bakat yang dia miliki. Berharap semua wanita mendekatinya.
Hanya harapan. Namun sebagian teman dikelasnya mengatakan rafael sangat aneh
karena seharusnya Rafael itu jago akan matematika itupun sebab ayahnya seorang
dosen matematika. Tapi walaupun ayahnya seorang dosen matematika dia tidak mau
jadi dosen. Dia hanya ingin jadi musisi. Oleh karena itu gitar adalah
keahliannya. Trik itulah yang membuat dia sangat tampil beda dari sebelumnya.
Saat perayaan pentas seni semester tiga dia sangat antusias mengikutinya dan
acara seperti itulah yang ditunggu-tunggu Rafael.
∞
Terdengar
dari suara speaker utama “ Baiklah kita tampilkan musikalisasi puisi dari kelas
XI 2 IPA yang akan membawakan lagu hujan
sesaat dengan alunan balada. Inilah dia
Rafael. Tepuk tangan semuanya.” Rafael pun muncul dengan gitar dan pakaian
berkemeja panjang gaya santai dengan jeans hitamnya yang terlihat oke.
Dari
tempat duduk Melodi di depan, dia melihat Rafael beda dari yang dulu. Wajah
hitam dulu kini bukan hitam tapi ada cahaya yang amat menyenangkan dari matanya
maupun wajahnya yang berkata indah.
“ Dia
bedakan Melodi?”
“
Sepertinya,” wajah melodi bersinar seketika melihat Rafael memainkan gitar
dengan harmoninya. Lagu baladanya yang sejuk dan mengalun sebagai hujan sesaat.
Rafael mungkin kini aku mencintaimu.
∞
Semester
tiga telah dilewati kini setelah berhari-hari tak bertemu Rafael. Melodi tampak
gelisah dia takut Rafael semakin menjauh akibat ucapannya yang lalu. Kemana dia? hitam kau pergi? Kau kemana
berhari-hari sudah kau menghilang ditelan bumi? Kalau kamu merayuku lagi aku
siap jadi pacarmu Rafael? Tapi kamu kemana? Hati Melodi bertanya-tanya. Sayang sampai bel
ditunggupun dia tak tampak. Jondaipun dia tak ada?
Kini
kelas mulai sepi, guru matematika telah datang. Dan dia seperti memegang kertas
ulangan. Jangan-jangan ulangan lagi, aduh aku lagi gak konsen nih. Jangan
sekarang, pliss. Lirihnya dalam hati.
Bu mela
pun mulai pembicaraan dan dia seperti mempunyai sesuatu untu disampaikan.
Senyumnya yang agak pait tanda tak ikhlas itu buktinya. “ Oh ya.. kalian sudah
tahu berita belum?” “Berita
apa bu?” celetuk seorang murid.
“ E..”
baru saja bu mela mau jawab terdengar
ucapan yang mengagetkan. Tanpa ketu pintu seperti sudah berlari terengah-engah.
“ Pagi
bu maaf terlambat.” sapa Jondai dengan hati takut dimarahi.
Melodi
sangat senang melihat sahabatnya ada. Dan
pasti Rafael juga masuk ucapnya dalam hati.
“ Ya
masuk. Kamu ini terlambat untung sekarang ada ulangan jadi ibu bebasin kamu
tapi lain kali kamu akan ibu hukum!” jawaban seorang guru yang tegas. Dengan
wajah yang suram Jondaipun masuk.
“ Bu
lanjut dong berita apa?”
Ibu
mela hanya diam sepertinya dia malas setelah ada hal yang tidak mengasyikan
datang dengan tiba-tiba. Ia tampak langsung kecewa dan membagikan kertas
ulangan matematika. Suasana kelas sangat hening.
Saat
istirahat Melodi tampak gelisah. Ia terus teringat sesosok lelaki yang hitam
tapi bercahaya matanya. Melodi langsung menanyakannya pada Jondai.
“ Hey,
aku boleh tanya?”
“ Tanya
apa?”
“ Kamu
tahu keadaan Rafael apa dia sakit? Dia tak ada?” wajah Jondai menangkap apa
yang ada benak Melodi.
“ Kamu
gelisah putri?”
Wajah Melodi
tampak merah merona.” Eee...enggak ya aku mau tanya aja kemana?”
“Dia
udah pindah sekolah putri,,” jawaban Jondai amat dingin.
“ Oh,
kemana?”
Jondai
mengobrak-abrik dompetnya dan mengambil selipan kertas dalam dompetnya “ Nah
nih ini alamat sekolahnya.” Melodipun
mangambil secarik kertas dan dibacanya. Jakarta. Sekarang aku ada di bandung. Jauh sekali? Kau pergi Rafael ? aku rindu
kamu? Pikirnya. “ Thanks.. oh ya kayaknya kamu sangat dekat dengan Rafael.
Kalau boleh nanti libur semester empat aku titip ini kepada Rafael.” Putri mengambil
bungkusan dengan tema hijau toska. Nah ini buat Rafael. Bisakan. Tolong ya?”
“Iya
boleh apapun bagi sahabatku. That right.” Jondai mengambil bungkusan kado itu
dari tangan Melodi.
Saat aku membencimu kamu datang tapi disaat
aku menyayangimu kamu pergi. Kau salah Rafael. Sekarang aku mencintai kamu.
∞
Kopi panas
“ Sampai
kapan hujan ini mau berhenti ya?”
Saat
itu aku sedang berada disebuah gardu kecil tempatnya berada di perkomplekan.
Entah apa namanya. Tiba-tiba sebuah motor berhenti. Siapa ya? ko aku kenal?
Motor butut itu!!
“ Weii
bhratda!”
“ Yee..
tenyata lu upil udang!”
“ Dasar
loe barong hitam”
Kami
tertawa sejenak saat saling mengejek. “ Eh kamu tau gak hujan-hujan gini
enaknya apa?”
“ Apa
gitu? Awas ya jangan otak mesum!” aku sedikit jeli menghadapi otak mesumnya
yang sedikit.
“ Wah kamu sensi banget sih. Aku tuh gak
ngebayangin yang tidak-tidak. kamu kali udah mesum duluan?”
“ Yee..siapa
lagi yang mesum.. geer..ya terus apa enaknya? Jangan tawa loe kalau loe ketawa gigimu
aja yang keliatan..vishhh”
“ Eumss.
Dasar jelek.. ya udah langsung aja hujan-hujan gini tu enaknya ngopi apalagi
kopinya anget.. setuju ga?”
“ Wah
itu sih aku setuju, ya masalahnya dimana
kita ngopi? and siapa yang nelaktir?”
“ Kamu lihat
sana.. tuh! Udah aku aja yang nelaktir, gimana mau?” menunjuk kesebelah kanan
belakang yaitu warung kopi.
“ Oke..
deal..kalau gitu.. lets go bhratda!!”
kamipun pergi menuju warung kopi disisi belakang rumah megah dengan
berlari menembus hujan, saat aku berlari duluan dari Rafael tidak terasa
tanganku dipegang terus tak lepas dari genggaman Rafael. Namun aku tidak marah,
sungguh hatiku sangat senang. Entahlah jujur mengkin aku sedikit menyukai
Rafael. Bagiku dia unik. Saat berlari kami tidak melihat orang didepan
akibatnya kami menubruk seseorang.
“
Upss..maaf kami gak sengaja,” jelasku.
“ Ya” Orang itu pergi begitu saja. Yang aku
lihat dia memandang tajam pada wajah Rafael. Dan aku juga melihat wajahnya
hampir mirip dengan Rafael.
“
Bhratda, kayaknya kamu saudara kembar dengan orang yang tadi nabrak kita deh?”
“ Masa?
Memang kami sama persis?”
“
Sedikitnya,”
“
Didunia ini banyak wajah yang mirip, hampir mirippun malahan banyak. Jadi aku
pikir hal itu biasa.”
Tapi tatapan wajah orang tadi menatap sangat
tajam kepada Rafael. Ah biarlah!! Kataku dalam hati. Kamipun menuju warung
tadi.
“ Bu
kopi angetnya dua gelas yah?” Rafael
memesannya duluan. “Eh kamu mau apa lagi mau mie atau mau apa gitu?”
“Aku
males makan mie kalo hujan ginian, enaknya sih kalo makanan pastinya gulali
tapi sayangnya itu gak ada.”
“
Gulali??” Rafael meraba-raba tasnya dan mengambil sesuatu dan aku lihat dia
membawa gulali loh??. “ Nah ini dia kamu suka gulali. Aku juga suka malahan waktu
sebelum pindah ke jakarta aku suka beli gulali didaerahku ngomong-ngomong
kenapa kamu suka gulali?” wajahnya membuat senyuman yang indah dia menatapku
dan aku berusaha bersikap jutek melihatnya.
“ Dasar
peniru! aku juga suka beli gulali dari saat aku kecil malahan ibuku suka
melarangku untuk makan gulali katanya tubuhku nanti akan gendut dan gigiku
pasti terkikis dalam artian ompong. Tapi itu tak menjadi halangan. Aku suka
gulali. Siapapun yang melarangku makan gulali. Aku pasti akan tetap makan
gulali.”
“
Pantesan Kamu sedikit gemuk.”
“ Daripada
loe kurus, eh?
“ Ya ya
ya, jangan ketawa kalau kamu ketawa kaya gulali gemuk.”
“ Dasar
loe barong hitam, eh ya katanya kamu tadi pernah tinggal dibandung?”
“ Memang..
memang kenapa?”
“ Gak
aku baru tau. Kalau boleh cerita dong disana teman-temanmu gimana? Rame gak?
Terus pengalaman yang paling indah dan bermakna apa?apa kamu punya cewe yang
disukai?” aku hanya menatap dan tersenyum menunggu Rafael berkata. Namun aku
menangkap wajah muram itu. Dia seperti tertekan dari senyum yang mengembang
terhenti saat itu. Akupun langsung berkata “ Ya sudah loe gak mau cerita no
what-what.” aku rada kecewa.
Saat
itu dia tak terucap dan melamun dengan pandangan kosong. Hatiku gemetar takut
tersinggung dan aku takut menyakiti perasaannya. Karena suasana jadi bete
seketika aku mengeluarkan handphoneku dan membuka deretan lagu tuk diputar
sepertinya lagu yang cocok adalah lagu balada. Lalu aku putar lagunya.
Bintang mengapa kau tak berkata sedikitpun
sepiku tanpa cahayamu
Oh bintang terangiku dalam dunia
nun sepi ku sendiri merenungmu
Aku memutarnya tanpa peduli
sekeliling. Hujan masih deras. Kopiku belum saja ada. Mungkin ibu warung sedang
masak air.
“ Aku
tau lagu ini. Aku juga suka. Oh ya. Maafkan aku, kamu pasti marah?”
“ Ya
sedikit kecewa bukan marah. Tapi ya biarlah. Nanti hilang sendirinya.” Aku
membuang gagang gulali yang telah habis aku makan dengan sekejap.
“ Dulu
saat aku dibandung aku pernah sekelas dengan Jondai. Aku dan jondai selalu
bersama. Bermain gitar sampai minggat sekolahpun kami pernah. Pokoknya
persahabatan kita berjalan lancar. Namun itu tak lama setelah sesuatu menimpa
keluargaku. Saat itu ayahku selingkuh dengan ibunya jondai, pasti jondai marah
karena dia amat mencintai keluarganya, dan..” Rafael terhenti bicara ia menarik
napas dalam-dalam sepeti membuka masalahnya. “ aku juga merasa marah mengapa
papah bisa sedemikian selingkuh dengan ibunya Jondai. Jujur aku sudah tak punya
ibu lagi dan saat aku tau itu aku senang papah dapet calon istri tapi saat aku
dengar calon istrinya adalah ibunya jondai. Aku tertegun.”
Saat
itu aku amat meresapi ceritanya dan aku juga merasa marah atas tindakan ayahnya
itu. Terlihat Rafael mengepalkan tangannya. Lalu aku melihat handphoneku dan
mematikan lagu balada tadi. Lalu menoleh lagi ke Rafael.“ Terus gimana? Pasti
loe kesal sama ayah loe kan? gue juga bisa merasakannya seandainya ceritanya
begitu. Tapi sekarang ayahmu dan ibu Jondai?”
Rafael
meneruskan ceritanya. “ Mereka meninggalkanku, mereka kabur entah kemana?
Sepertinya ayahku terlanjur cinta dan membawa ibu jondai pergi. Ayahku tega.”
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi aku hanya diam. “ Lalu setelah kejadian itu
aku meminta tolong pada Jondai dan apa hasilnya? Saat itu aku kelas dua SMA
dulu dibandung aku sudah tak punya apa-apa akhirnya aku jual rumah di bandung dan aku
tabung uangnya ke bank untuk hidup sehari-hari. Tapi sungguh itu tak cukup
akhirnya semester empat aku pindah ke Jakarta
untuk kerja sambil sekolah disini. Aku melamar jadi tukang membersihkan kebun
di sebuah rumah mewah. Dan diterima. Kamu tau pemilik rumah itu siapa?”
“Jondai?”
kataku gugup karena aku pernah mendengar hal itu saat pertengkaran jondai dan
Rafael.
“ Pasti
kamu dengar saat pertengkaranku ya?”
Akupun
mengangguk. “Lalu gimana?”
“ Ya
aku diperbudak olehnya. Aku tak menyangka ternyata itu adalah rumah wanita simpanan ayahnya Jondai. Jadi sebelum ibu
jondai menghianati ayahnya Jondai, ayahnya Jondai lah yang pertama berkhianat.
Tapi biarlah aku sudah makan dan tinggal disanapun beruntung. Aku tetap tak
menyalahkan Jondai. Jondai tetap sahabatku. Walaupun kini Jondai membenciku
karena kehilangan ibunya yang dibawa ayahku.”
“ Gue
ngerti perasaan loe fa. Sungguh gue kagum sama loe. Setidaknya jika gue jadi loe gue sudah benci sama Jondai
dan benci pada ayahmu yang tak bertanggung jawab itu.”
“ Udah
lah itu kopinya udah datang?” dia mlirik ke arah gelas yang datang.
“
Yeeeee.. Gue gak sabar meminumnya?”
“ Eitsss
aku duluann..” dia mengambil duluan kopi yang ada dalam cangkir itu. Dan
seketika kami tetawa gembira. Kopi panas itu adalah hobi kami. Sangat indah
saat ada hujan, aku bercerita, ngopi, sekaligus lagu balada bersama Rafael. Andai dia menatapku serius sayangnya tidak?
∞
Kejujuran yang terungkap
“ Vin
loe sudah tau gak yang namanya putri-putri itu siapa sih nama panjangnya?”
“
Kenapa loe na? kayaknya segut amat ma si Putri,”
“ Ya
pengen kenal Sudah tau gue kan pengen belajar musik.” ucapku semangat.
“
Cielah.. jangan-jangan karena loe suka sama si cowo hitam itu ya, rafael? Ya kan
ngaku?” ucap Vina sambilnya terkekeh-kekeh.
“ Apa
sih loe? Jauh dari kenyataan, gue cuma pengen belajar kok!, toh gue juga suka
musik apalagi instrumen-instumen mandarin. Wloo!” walaupun dalam hati ada teerbesit
iya untuk mendekati Rafael.
“ Iya
deh, no what-what..” Vina masih terkekeh-kekeh.
“ Nanti
kenalin dong yah sama si Putri itu?”
“ Oh, sekarang
juga bisa sesudah bel pulang sekolah, tapi..” vina berpikir yang entah benar
mengingat atau apa. “ Ya. Biasanya masih ada saat gue pulang tapi kita harus
cepat-cepat, gimana mau?”
“ Oh
tentu, gue siap mudah-mudahan gue bisa
bertemu dia,”
Saat
bel pulang kami langsung tancap gas
mobil menuju rumah imperium musik sebelah rumahnya Vina. Vina yang
mengemudi ugal-ugalan tak peduli ada polisi atau tidak tapi aku selalu was-was
karena dikit-dikit rem ngedadak. Itupun selalu ada kucing yang lewat. Entah
kenapa?
“ Nah
kita sampai? Tuh putri?” Vina menunjuk seseorang yang sedang memegang biola.
Dalam hatiku waw masih ada bidadari yang
cantik ternyata..hehe.
“Ohitu,
yu kita kesana?”
“ Oke
cabut,”
Kamipun
menuju rumah imperium musik itu. Belum sampai kekelas. Putri sudah keluar dan
bersiap menyambut kami. Namun Vina tanpa malu-malu menyapa.
“ Siang
Bu guru Putri”
“ Wah..
ternyata ada tamu istimewa. Kakaknya silvinakan?”
“
Begitulah, gue Vina dan ini temen gue
namanya Mina.”
“Oh..
aku Melodi Putri Sanjaya. Senang bisa bertemu dengan kalian berdua. Oh ya
silakan masuk?”
“
Anak-anak udah pulang Bu?”
“ Aduh
jangan panggil Ibu, aku jadi gugup. Lagian aku juga masih seumuran kalian,
panggil saja Melodi. Iya mereka udah pulang. Tumben kalian datang kesini memang
ada keperluan apa?”
Aku
hanya terdiam saja dan yang menjawab pastilah Vina.
“ Eh
iya.. lupa maksud kedatangan kita kesini kita ingin belajar musik, eitss maksud
gue, Mina ingin belajar musik dengan loe, mungkin loe bisa mengajarin dia?hehe”
“ Oh,
baik saya siap. Mungkin besok minggu Mina bisa kerumahku datang, kita akan
belajar musik, gimana?”
“Tuh!
Mina gimana mau gak?”
“ E...e
.. iya dong. jangankan besok sekarang juga gue siap.” Aku terkekeh-kekeh
“ Oh
sekarang, Ayo!! Mungkin Mina bisa ikut aku keruang musik bawah sana kita
belajar musik dasar dulu baru sampai ke alat. Gimana?”
“
Setuju.” jawabku semangat
Kamipun
berjalan menuju ruang bawah untuk belajar dasar musik. Ya dalam pembawaannya
sangat enak dan menyenangkan. Aku tidak merasa jenuh belajar dengannya.
Sedikit- dikit kami ketawa penuh karena kekacawanku dalam musik yang tak tau
not balok- balok pun? Hingga tiba saatnya aku mengerti. Belajar musik dasar
dalam enam jam penuh telah aku kuasai dan jam lima sore kami akan bersiap
pulang namun sebelum pulang aku meminta alamat melodi dulu dan melodi meminta
alamatku. Kami saling bertukar alamat rumah. Setelah itu aku cabut dari rumah
imperium musik. Terkecuali melodi yang diajak pulang oleh kami tidak mau karena
sudah ada yang mau menjemput, katanya.
∞
Malam yang sunyi menyelimuti
kalbu. Aku melamun dan melamun memandangi foto-foto temanku yang dulu pergi.
Aku sedikit teringat akan masa lalu yang indah. Terhenyut dalam hatiku. Teman
teman yang aku janji menjagaanya. Teman teman yang dulu pernah singgah dalam
benakku. Teman yang selalu membuat aku tersenyum. Mengubah ahayal menjadi
kenyataan. Dia teman lelaki yang jauh hingga aku tak pernah melihatnya kembali.
Kemana dia. Tito ? sungguh kau selalu ada dalam mimpi indahku, kau ada dimalam
ini. Aku hanya melamun dan memandangi fotoku bersama lelaki yang pergi, tito.
Jika aku melihat fotonya, kulitnya itu hampir sama dengan Rafael. Hanya kulit, namun
mukanya jauh berbeda. Dan sikap mereka beda jauh pula.
“ ah,
kenapa sih aku ini. Diakan udah hilang, lebih baik aku buat puisi aja deh..” menulis
puisi adalah kegemaranku. Dan bila ada masalah aku tuliskan pikiranku dalam
bentu puisi. Itu aku lakukan sejak kelas sepuluh dulu. Aku pun menuliskan
pikiranku dalam kertas.
Untukmu
Fajar Berlalu
Hanya hangatnya malam berlalu
Dingin ini telah kau dekapi
Bukankah kau malam yang
bercahaya
Bukankah dirimu bunga banggaanku
Kau
selalu berlalu
Kau
mudah menghilang
Saat matahari
rindu padamu
Kau
malah datangkan bulan
Saat kain sutramu leleh
Kau
panaskan aku dengan api
Fajar...kini fajar tlah berlalu
Menggantikan bulan
Berharap ada
bersamamu
Berharap gelapmu selalu ada cahaya.
∞
“ Gue
pikir loe salah Vin?”
“ Salah
apa? Coba loe pikir jika loe susah-susah mikir and loe putus asa ya mending loe
harus..”
Belum
saja Vina lanjut bicara Rafael memotong pembicaraan. “ Mina hey..” teriaknya
dari kejauhan. “ Hey baru dateng loe?eh,”
“ Yaps
sorry.. loe ada perlu apa kayaknya serius amat?”
“ Oh,
aku cuma mau bilang nanti pulang sekolah kita ke toko almust yu? Anterin aku
dong.. yah.. yahh.. yahh?”
“ Loh!!
Emang loe mau cari apa ditoko itu?”
“ Aku
mau cari harmonika nih? Kebetulan sekarangkan deket tuh ma ujian praktek musik,
aku mau coba sesuatu yang baru, mau kan? Oh ya Vin kamu juga dong yah?”
“ Oh,
oke gue setuju..” jawab Vina sambil
tersenyum. “ nah loe ikut gak na?”
“ Ya
gue terserah loe Vin. Loe ikut gue juga ikut.”
“ Oke
siap, thans for all”
∞
“ Nah
sampai, inilah toko almust untuk menjual alat-alat musik, let’s go?”
“ Oke
bhratda..”
Akupun
masuk ke ruang alat-alat musik. Disana kami berjalan-jalan melihat-lihat alat
musik. Dan terbesit dalam pikiranku aku ingin membeli sesuatu alat. Aku juga
butuh untuk nanti praktik ujian seni musik. Tapi apa ya, sesuatu yang
berhubungan dengan alat musik dan lagu balada. Apa ya?. Ah aku beli gitar aja
deh lagi pula aku ingin sekali belajar gitar dan setelah itu aku ingin belajar
gitar bersama melodi. Ya aku akan beli gitar.
“ Oh ya
bhratda, gue ke sana dulu ya..” sambil menunjuk kearah blok gitar.
“ loe
mau beli gitar na?” ucap Vina heran.
“ Ya
gitu deh,”
“ Terus
siapa yang ngajarin?”
“ Tenang
aku juga bisa ngajarin kamu kok,” kata Rafael.
“ Ah,
gak usah repot-repot gue sudah ada gurunya kok,”
“ Emang
siapa na?”
“ Ah gak
usah tau kalau nanti gue udah mahir maen gitar kita tanding gimana?” aku
meninju dadanya, tinju bercanda.
“ Oke
siapa takut!!” Rafael membalas dengan jitakan dikepala.
“
Aww..sakit tau, ya udah gue san dulu yah?”
Akupun
menuju ke blok gitar. Disana aku sedang memilih-milih gitar yang indah. Ukiran
gitar ada yang sangat indah. Ukirannya seperti ukiran batik khas jawa barat.
Lalu aku lihat-lihat lagi. Tak sadar ada yang menyapaku dari belakang.
“ Hey..
kamu lagi ngapain?”
Seorang
wanita dengan rambut tergerai sebahu, warna rambutnya agak kemerahan dan memakai
gaun ungu berpolet putih. “ Waw putri.. cantik banget, loe ini memang putri yah?”
“ Ah,
kamu bisa aja, tidak segitunya kali. Oh ya lagi cari apa disini? Sendirian?”
“ Ya,
gue lagi cari gitar nih? Kebetulan sekali gue bertemu loe sambil gue ingin
menanyakan sesuatu. Ngomong-ngomong kamu juga sendirian? Lalu mau kemana
pake gaun segala? And gue sama temen-temen gue. Mereka sedang mencari alat
musik juga?”
“ Aku sama
someone, dia sedang di blok harmonika,
katanya sih mau tes ujian akhir sarjana. dan aku mau ke acara ulang tahunnya
temen someoneku, aku diundang untuk menyanyikan lagu. Biasalah orderan,”
jawabnya dengan senyum manis.
“ Wah
loe ini.. emang pinter nyari duit ya!! Loh sama temen gue juga lagi di blok
harmonika alasannya sama buat nanti ujian akhir, bedanya itu ujian akhir
sarjana, kalau temen gue ujian akhir sekolah, eh ya kapan-kapan ajarin gue maen
gitar yah?”
“ Iya
siap.. oh ya aku duluan yah.. kayaknya aku ditunggu dibawah ni.. dia udah
selsai.. dah sampai jumpa nanti, maaf aku terburu-buru nihh..”
“ Ya..
hati-hatI!!” dia meninggalkan dan lari kecil untuk menuju keluar.
Akhirnya
sekian lama sudah aku mencari gitar dan ketemu. Akupun membeli gitar yang ada
corak batik khas jawa-barat itu. Dan Rafael juga membeli harmonikanya. Setelah
semua beres kamipun cabut dari toko almust.
∞
“ Nah
kamu harus tahu dulu kunci A ada A minor n A mayor, ada kunci G, F, E, B, C,D
kita mulai dari yang mudah kunci A” akupun berusaha memetik dan memindahkan
jari-jariku sesuai dari kunci A ke kunci G misalnya lalu ke D dan kunci-kunci
lainnya hingga dalam waktu tiga jam aku kuasai kunci-kuncinya namun untuk
pemindahan kunci ke kunci lainnya sangatlah
susah. Saat belajar aku hanya mengangguk dan menganguk saja. Dan sesekali aku berhenti karena lenganku
agaknya tak terbiasa. Lalu kamipun tertawa bersama saat menceritakan kisah
cinta monyetku diwaktu kecil.
“ Nah
kalau kisah cinta yang menarik loe gimana?”
“ Ah
kalau aku gak terlalu suka yang namanya cinta, aku sudah tak berminat lagi
mencinta,”
“ Loh,
bukannya loe udah punya someone?”
“ Ya,
karena terpaksa.”
“ Emsss..
mengapa?” aku bertanya ceplas-ceplos tak aku pikirkan perasaannya. Wajahnya seketika
berubah jadi muram lalu dia ketawa.
“ Kayaknya
aku sudah percaya sama kamu, Mina, mungkin saatnya aku cerita sama kamu”
“
Maaf.. gue ingin tau saja putri.. tapi tak apa kalau loe gak bercerita, loe
sudah percaya pun gue sangat senang.”
“ Tak
apa, aku akan cerita sama kamu,” Melodi
duduk di sampingku. Dan siap memulai bercerita.
“ Dulu
waktu aku kelas dua SMA di bandung, aku orang yang biasa-biasa aja, banyak
orang yang tak suka padaku karena aku lemah, namun disisi lain banyak juga yang
suka padaku terutama cowo-cowo. Mereka selalu merayuku, tapi aku hanya diam tak
peduli dengan siapa itu, sekalipun dia tampan dan keren menurut orang lain,
tapi aku tak suka, hatiku tak merasa mencintai seseorang. Aku hanya memikirkan
belajar dan belajar, tak peduli orang lain manggil aku kutu buku atau
sebagainya. Hingga..” ceritanya terhenti. Aku hanya mengamati wajahnya yang
ceria dan sesaat dia menatap hujan diluar.
“ Hingga
waktu itu seorang lelaki selalu mendekatiku, menyapaku itu hampir tiap hari dia
lakukan. Dia selalu memberi bunga padaku, tapi aku buang bunga itu didepan
mukanya sambil tersenyum palsu. Saat
kejadian itu yang berulang-ulang dilakukannya, aku melihat dia selalu
tersenyum padaku, walaupun aku selalu acuh padanya dan berkata pergi sana dasar
muka jelek. Aku bilang begitu,” sesaat aku melihat muka kecewa pada diri
melodi.
“ Lalu
dia tersenyum memandangku, ‘iya putri’ dan pergi dengan tersenyum, seperti tak
ada beban, Dia ikhlas mencintaiku. Suatu hari Dia bermain gitar dengan
senangnya dalam acara pentas seni semester tiga. Dia memakai kemeja panjang
santai dan jelana jeans berwarna hitam. Keren sekali. Dia tampil memukau di
atas panggung. Menyanyi dengan senangnya semua. Hingga selsai dia bernyanyi,
semua orang bergemuruh dengan tepuk tangan. Disitulah hatiku muncul untuk dia.
Setelah libur semester tiga hatiku ingin mengungkapkannya kepada orang itu,
namun setelah aku dengar berita dari temanku katanya dia pindah sekolah. Aku
tertegun dan amat merindukannya. Hingga kinipun aku sangat merindukannya. Aku
ingin sekali bertemu dengan dia.” Tak sadar aku melihat dia menangis.
“ Loh, jangan
cengeng dong?? Sabar nanti juga pasti loe pasti bertemu sama dia,,”
“ Ya
doakan saja na.” dia lalu mengusap air matanya dan langsung bertanya. “ kalau
kamu gimana cerita cintamu yang pertama?”
“
Sepertinya gue juga sudah amat nyaman curhat pada loe. Gue pikir gue juga punya
cerita cinta,”
“ Makasih
yah na kamu dah percaya padaku.”
“ Ya
gue juga put, mungkin langsung saja.”
“ Emmm..”
dia merapat kembali didekatku.
“ Dulu
gue juga punya seseorang yang sangat gue cintai.. loe tau.. kita mencintai dari
kecil lohh?”
“ Oh ya?
Memangnya bagaimana?”
“ Saat itu
gue masih tinggal didesa dan gue masih berumur enam tahun, sedang dia berumur sembilan
tahun. Sekolahnya bersebrangan dengan Sekolah
gue hanya terhalang oleh jembatan dan sungai. Dulu pertama kali gue bertemu dia,
saat gue menaiki motor bersama ayah. Kami saling berpandangan. Walaupun hanya sesaat gue sangat bahagia. Disaat orang
lain menganggap cinta waktu kecil adalah cinta monyet tapi lain dengan ini gue rasa
ini bukan cinta monyet. Cinta yang sangat menyejukan hati. Emm..” Melodi sangat
memperhatikan ceritaku.
“ Setiap kali gue menaiki motor gue selalu
berjumpa dengannya. Kami selalu tersenyum. Pernah suatu saat dia melambaikan
tangan dan gue melihatnya. Guepun melambaikan tangan. Suatu hari ada perlombaan
bernyanyi antar SD, gue terpilih untuk membawakan lagu wajib. Gue berharap bertemu dia. Dan akhirnya kami
bertemu. Kami saling berkenalan. Dia tersenyum pada gue. Waktu itu gue kelas
dua SD dan dia kelas lima SD. Perkenalan kami tidak sampai disitu, kami selalu bermain setelah pulang sekolah. Kami
selalu pergi kesawah mencari capung. Dan
bercerita dongeng-dongeng cina.”
“ Sampai
akhir ujian nasional SD kami berpisah dia pindah ke jakarta. Tanpa kabar. Tapi
gue selalu dengar dari paman bahwa dia sangat mahir main biola katanya, yang
paling menakjubkan dia pernah juara umum. Gue selalu dengar berita-berita itu.
Dengan mendengar berita diapun gue
sangat senang. Kalau gue deskripsikan dia mempunyai kulit warna hitam, matanya
lentik seperti wanita, dia senang bermain biola dan rambutnya berpusar kekanan.
Sampai akhir inipun gue belum bertemu dengannya. Dan satu lagi paman suka mengirim
foto-foto dia saat berada di jakarta. Sampai saat ini gue selalu pajang
disana.” Aku menunjuk foto yang terpajang dikamarku. Foto lelaki yang sekarang
berubah warna kulit jadi putih. Bibirnya warna merah seperti darah dan matanya
tetap lentik seperti cewe.
Melodi
mendekati foto yang terpajang itu. “ Ini cowo yang kamu maksud?”
“ Iya.”
aku terkekeh-kekeh.
“ Aku
tau siapa dia?” aku tersentak saat dia berkata aku tau siapa dia?. Lalu mengapa dia tau?. Kataku dalam
hati. “ Dia Tito kan?”
“ Hah,
sumpah mengapa loe tau?” hatiku semakin tersentak mendengar itu. Aku berlari
kecil kearah Melodi. “ coba jelaskan sama gue darimana loe tau? Hubungan apa
loe dengan Tito?”
Melodi
tersenyum dan kembali ke tempat duduknya, lalu aku mengikutinya, dan duduk
disebelah dia. Sesaat dia merenung. Lalu mulai berkata.
“ Dia
adalah someoneku itu. Dia menjadi kekasih terpaksaku. Kamu tau aku tidak mencintainya? Karena itu cinta yang
kujalani terpaksa. Mungkin aku sangat rela kamu bersamanya. Kamu pasti mau
bertemu dengannya?”
“
Sungguh? Gue tak mau mengecewakan loe, tapi bener loe setuju akan hal ini?”
“ Mina
kamu adalah sahabatku, aku sangat rela daripada tito mendapat cinta palsu
mending kamu saja yang memberi cintamu padanya, pasti kalian akan saling
mencintai juga”
Aku
langsung memeluk sahabatku Melodi, aku menagis bahagia, karena aku diberi
kesempatan bertemu dengan Tito. “ Makasih Melodi, loe sahabat gue yang baik,”
“Emmm..sama-sama.”
Melodi juga tersenyum dan aku liat senyumnya tulus tak terpaksa.
Inilah hal kejujuran yang terungkap.
By Narti S.
