Powered By Blogger

Rabu, 13 Maret 2013

Cerpen


                            Janur Kuning

                “ Hari ini adalah hari bahagiamu dina, mudah-mudahan allah memberi kamu kemudahan, keridhoan, dan keselamatan dalam pernikahan ini. Amien.” Ucapku sambil memeluk dina.
                “ Amien teh, terima kasih atas do’anya, mudah-mudahan teteh juga mudah diketemukan jodoh.”
                “ Amien”
 Setelah kami saling mendoakan kamipun keluar dari kamar menuju masjid  untuk melakukan ijab kabul. Aku sangat bahagia karena baru kali aku melihat dina gembira, tersenyum dan tertawa. Dulu dia sangat pendiam, pemurung, dan jarang sekali tertawa. Hari itu dia sangat cantik memakai gaun pernikahan bewarna coklat muda dengan hiasan yang indah membuat semua orang kagum melihatnya. Benarkah dia Dina? Aku sangat tidak percaya melihat dia tertawa dan tersenyum indah. Ucap hatiku tak percaya.
“ Aisyah, kamu sedang apa? Mau ikut kemesjid?” terdengar suara yang mengalun dari belakang.
“ Mas iwan? Oh tidak mas aku disini saja. Mas mau kesana?”
“ Tidak mas akan tunggu pengantinya disini. Kamu kenapa menangis aisyah?”
“ Aku bahagia mas, sekarang dina menikah dengan seorang lelaki sholeh dan dia sangat perhatian kepada Dina, lalu aku senang dina bisa tersenyum kembali. Sungguh aku sangat bahagia hari ini.”
“ Alhamdulillah, inilah sunah rosul, allah itu maha adil aisyah, allah memberi nafsu dan allah juga memberi jalan suci dalam nafsu itu. Sudahlah jangan menangis lagi. Lebih baik kita makan yu?”
“ Apasih mas iwan kerjaannya makan terus? Nanti gemuk loh!”
“ Biarin walaupun mas suka makan tapi mas gak gemuk kan?”
“ Iya aneh!!”
Kamipun menuju ke ruang makan. Namun ada sesuatu dalam hatiku yang membuat aku tidak tenang. Dan hal itu diketahui oleh mas iwan yang menangkap raut wajahku yang sedikit bingung.
“ Kamu kenapa aisyah? Kayaknya kamu gelisah ada apa?”
“ Oh, tidak mas aku tidak apa-apa, aku hanya tidak enak hati entah kenapa, oh ya mas saya keluar dulu, silakan saja mas makan duluan nanti aisyah nyusul.”
“ Iya, hati-hati aisyah mas takut kamu kenapa-kenapa.”
Akupun menuju keluar dan menyejukan hatiku dengan udara segar. Kenapa aku sangat gelisah seperti ini, apa aku menguatirkan dina, dia sudah sehat kok, kenapa aku sangat takut atas pernikahan ini, aisyah ayolah kamu harus bahagia dan jangan khawatir tentang dina diakan sudah tertawa dan bahagia. Ucapku dalam hati yang terus bertanya-tanya. Aku melihat mas iwan meuju kemari.
“Aisyah nih makan dulu, mas khawatir kamu gak makan sampai sebulan karena kebingungan kamu?” dia tertawa dan membuatku hanya tersenyum.
“ Mas ini bisa aja,”
“ Lebih baik kamu jangan terlalu mengkhawatirkan keadaan dina, lihat dia baik-baik saja,” akupun melihat dina yang sedang difoto-foto dengan keluarganya. “ Dia sehat, dia bahagia, dan dia tersenyum. Jangan khawatirkan dia, percayalah dia baik-baik saja.”
Apa yang dikatakan mas Iwan memang benar. Aku melihat dina baik-baik saja. Akupun tersenyum kepada mas iwan. “ Bener mas, Dina baik-baik saja.”
“ Nah, ini makan, mas udah cape-cape bawain kamu makan kalau kamu gak makan akan mas cubit 
  kamu sama kepiting peliharaan mas, mau?”
“ Emang mas punya peliharaan kepiting?”
“ Punya, nanti kalau kita nikah kita beli kepiting.”
“ Memang kita kapan menikah mas? Lagipula kalau mas punya kepiting akan kurebus buat makan malam kita. Itu loh kayak direstoran-restoran.”
“ Aisyah.. Aisyah.. insya allah mas akan lamar kamu secepatnya. Kalau kepitingnya direbus terus hewan peliharaan kita apa?”
“ Nah, gimana kalau kita pelihara kucing kayak abu hurairah? Beliaukan bapak kucing? Gimana?”
“ Boleh, nanti kita akan beli,”
“ Mudah-mudahan mas Iwan sabar.”
“ Selalu aisyah, insya allah.”

Malam itu cuaca sangat dingin, angin malam membuatku rasa khawatir. Dina apakah kamu baik-baik saja?. Aku sedang duduk dan melihat dua pengantin yang anggun diteras untuk mengadakan pengaosan. Rasa khawatirku hilang. Lalu aku melihat dina masuk kedalam. Dan aku tak peduli. Mungkin sebentar lagi pengantin lelaki juga akan kedalam.
Beberapa menit kemudian pengaosan dimulai. Dan aku tak melihat dina. Aku hanya melihat pengantin  lelaki saja. Dina apakah kamu sedang didalam. Pikirku hanya mungkin dina sedang dirias kembali. Hingga aku menunggu samapai pengaosan hampir selsai aku tidak melihat dina. Pengantin lelakinya juga terlihat bingung dan khawatir. Lalu pengantin lelaki itu masuk kedalam. Ada yang membuat aku harus masuk kedalam juga. Akupun berlari dan masuk kedalam.
Pengantin lelaki itu masuk kedalam. Tapi aku takut mengganggu   mereka. Lalu niatku untuk bertemu dina aku urungkan. Tiba-tiba pengantin lelaki keluar dengan raut muka tak ku ketahui. Ibu dina mendekatinya dengan heran.
“ Aisyah ada apa?” aku tak merasa mas Iwan ada didekatku.
“ Tidak tau mas, ayo kita kesana?”
Aku bertanya tak ada yang menjawab dan aku merasa ada sesuatu pada dina. Aku mencoba ke kamar. Aku melihat dina terbaring lemas. Lalu aku lebih mendekat dan terlihat tak ada kehidupan dalam diri dina. Aku keluar dengan terkulai lemas.
“ Ada apa aisyah, ada apa dengan dina?” ucapan mas Iwan tak aku dengar. “ Aisyah, apa Dina?” aku hanya mengangguk. “ Aisyah.. bersabarlah dan berdo’a agar dia di terima disisi-Nya jangan kamu menangis Aisyah.”
Aku hanya terkulai lemas dan sangat sedih dan aku percaya bahwa setiap kebahagian pasti selalu ada kesedihan. Dina, aku sudah mengira bahwa penyakitmu belumlah sembuh, dina maafkan aku sebagai sahabat yang buruk tak bisa memberimu kebahagian. Dina kamu memberi kami sebuah embun yang membuat kami menangis dihari kebahagian sucimu. Maafkan aku Dina!!

                             Karya Narti Sunartini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar