Janur Kuning
“ Hari ini adalah hari bahagiamu dina, mudah-mudahan allah memberi kamu kemudahan, keridhoan, dan keselamatan dalam pernikahan ini. Amien.” Ucapku sambil memeluk dina.
“ Hari ini adalah hari bahagiamu dina, mudah-mudahan allah memberi kamu kemudahan, keridhoan, dan keselamatan dalam pernikahan ini. Amien.” Ucapku sambil memeluk dina.
“ Amien
teh, terima kasih atas do’anya, mudah-mudahan teteh juga mudah diketemukan
jodoh.”
“
Amien”
Setelah kami saling mendoakan kamipun keluar
dari kamar menuju masjid untuk melakukan
ijab kabul. Aku sangat bahagia karena baru kali aku melihat dina gembira,
tersenyum dan tertawa. Dulu dia sangat pendiam, pemurung, dan jarang sekali
tertawa. Hari itu dia sangat cantik memakai gaun pernikahan bewarna coklat muda
dengan hiasan yang indah membuat semua orang kagum melihatnya. Benarkah dia Dina? Aku sangat tidak percaya
melihat dia tertawa dan tersenyum indah. Ucap hatiku tak percaya.
“ Aisyah, kamu
sedang apa? Mau ikut kemesjid?” terdengar suara yang mengalun dari belakang.
“ Mas iwan? Oh
tidak mas aku disini saja. Mas mau kesana?”
“ Tidak mas
akan tunggu pengantinya disini. Kamu kenapa menangis aisyah?”
“ Aku bahagia
mas, sekarang dina menikah dengan seorang lelaki sholeh dan dia sangat
perhatian kepada Dina, lalu aku senang dina bisa tersenyum kembali. Sungguh aku
sangat bahagia hari ini.”
“
Alhamdulillah, inilah sunah rosul, allah itu maha adil aisyah, allah memberi
nafsu dan allah juga memberi jalan suci dalam nafsu itu. Sudahlah jangan
menangis lagi. Lebih baik kita makan yu?”
“ Apasih mas
iwan kerjaannya makan terus? Nanti gemuk loh!”
“ Biarin
walaupun mas suka makan tapi mas gak gemuk kan?”
“ Iya aneh!!”
Kamipun menuju
ke ruang makan. Namun ada sesuatu dalam hatiku yang membuat aku tidak tenang.
Dan hal itu diketahui oleh mas iwan yang menangkap raut wajahku yang sedikit
bingung.
“ Kamu kenapa
aisyah? Kayaknya kamu gelisah ada apa?”
“ Oh, tidak
mas aku tidak apa-apa, aku hanya tidak enak hati entah kenapa, oh ya mas saya
keluar dulu, silakan saja mas makan duluan nanti aisyah nyusul.”
“ Iya,
hati-hati aisyah mas takut kamu kenapa-kenapa.”
Akupun menuju
keluar dan menyejukan hatiku dengan udara segar. Kenapa aku sangat gelisah seperti ini, apa aku menguatirkan dina, dia
sudah sehat kok, kenapa aku sangat takut atas pernikahan ini, aisyah ayolah
kamu harus bahagia dan jangan khawatir tentang dina diakan sudah tertawa dan
bahagia. Ucapku dalam hati yang terus bertanya-tanya. Aku melihat mas iwan
meuju kemari.
“Aisyah nih
makan dulu, mas khawatir kamu gak makan sampai sebulan karena kebingungan
kamu?” dia tertawa dan membuatku hanya tersenyum.
“ Mas ini bisa
aja,”
“ Lebih baik
kamu jangan terlalu mengkhawatirkan keadaan dina, lihat dia baik-baik saja,”
akupun melihat dina yang sedang difoto-foto dengan keluarganya. “ Dia sehat,
dia bahagia, dan dia tersenyum. Jangan khawatirkan dia, percayalah dia
baik-baik saja.”
Apa yang
dikatakan mas Iwan memang benar. Aku melihat dina baik-baik saja. Akupun
tersenyum kepada mas iwan. “ Bener mas, Dina baik-baik saja.”
“ Nah, ini
makan, mas udah cape-cape bawain kamu makan kalau kamu gak makan akan mas cubit
kamu sama kepiting peliharaan mas, mau?”
“ Emang mas
punya peliharaan kepiting?”
“ Punya, nanti
kalau kita nikah kita beli kepiting.”
“ Memang kita
kapan menikah mas? Lagipula kalau mas punya kepiting akan kurebus buat makan malam kita. Itu loh kayak direstoran-restoran.”
“ Aisyah..
Aisyah.. insya allah mas akan lamar kamu secepatnya. Kalau kepitingnya direbus
terus hewan peliharaan kita apa?”
“ Nah, gimana
kalau kita pelihara kucing kayak abu hurairah? Beliaukan bapak kucing? Gimana?”
“ Boleh, nanti
kita akan beli,”
“
Mudah-mudahan mas Iwan sabar.”
“ Selalu
aisyah, insya allah.”
∞
Malam itu cuaca sangat dingin,
angin malam membuatku rasa khawatir. Dina apakah kamu baik-baik saja?. Aku
sedang duduk dan melihat dua pengantin yang anggun diteras untuk mengadakan
pengaosan. Rasa khawatirku hilang. Lalu aku melihat dina masuk kedalam. Dan aku
tak peduli. Mungkin sebentar lagi pengantin lelaki juga akan kedalam.
Beberapa menit kemudian pengaosan
dimulai. Dan aku tak melihat dina. Aku hanya melihat pengantin lelaki saja. Dina apakah kamu sedang didalam.
Pikirku hanya mungkin dina sedang dirias kembali. Hingga aku menunggu samapai
pengaosan hampir selsai aku tidak melihat dina. Pengantin lelakinya juga
terlihat bingung dan khawatir. Lalu pengantin lelaki itu masuk kedalam. Ada
yang membuat aku harus masuk kedalam juga. Akupun berlari dan masuk kedalam.
Pengantin lelaki itu masuk
kedalam. Tapi aku takut mengganggu
mereka. Lalu niatku untuk bertemu dina aku urungkan. Tiba-tiba pengantin
lelaki keluar dengan raut muka tak ku ketahui. Ibu dina mendekatinya dengan heran.
“ Aisyah ada apa?” aku tak merasa
mas Iwan ada didekatku.
“ Tidak tau mas, ayo kita
kesana?”
Aku bertanya tak ada yang
menjawab dan aku merasa ada sesuatu pada dina. Aku mencoba ke kamar. Aku
melihat dina terbaring lemas. Lalu aku lebih mendekat dan terlihat tak ada
kehidupan dalam diri dina. Aku keluar dengan terkulai lemas.
“ Ada apa aisyah, ada apa dengan
dina?” ucapan mas Iwan tak aku dengar. “ Aisyah, apa Dina?” aku hanya
mengangguk. “ Aisyah.. bersabarlah dan berdo’a agar dia di terima disisi-Nya
jangan kamu menangis Aisyah.”
Aku hanya terkulai lemas dan
sangat sedih dan aku percaya bahwa setiap kebahagian pasti selalu ada
kesedihan. Dina, aku sudah mengira bahwa penyakitmu belumlah sembuh, dina
maafkan aku sebagai sahabat yang buruk tak bisa memberimu kebahagian. Dina kamu
memberi kami sebuah embun yang membuat kami menangis dihari kebahagian sucimu.
Maafkan aku Dina!!
Karya Narti Sunartini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar